Seorang gadis sedang duduk santai di atap rumahnya, menikmati pemandangan sore hari, matahari mulai lingsir ke arah barat, awan merah dengan indahnya, angin sore yang melambaikan jilbab hitamnya. Dia merindukan kekasihnya, ingin sekali bertemu tetapi kekasihnya selalu sibuk. Dia bisa memaklumi, memang kekasihnya itu orangnya super sibuk.
"Ohh Tuhan... Kenapa aku merasakan keganjalan pada dirinya, sejak awal berjumpa perasaanku sudah tidak enak. " kata si gadis dengan penuh kecemasan.
Dia takut apa yang dikhawatirkan selama ini akan terjadi. Dia begitu menyayangi kekasihnya, dia ingin kekasihnya yang menjadi pelabuhan terakhir dihatinya. 1,5 bulan mereka menjalin kasih, tapi makin lama hubungan mereka semakin merenggang.
Malam harinya kekasihnya itu menghubungi gadis itu..
" Ukhti, kapan kita bisa ketemu ?? Aku ingin bicara serius padamu. Doakan saja semoga aku bisa menyampaikan semuanya padamu, tapi janji jangan marah padaku nanti. "
" Tergantung, kamu mau ngomong apa ?! "
perbincangan mereka tak lama, hanya beberapa menit saja. Kekasihnya langsung menutup telfon tanpa salam terlebih dahulu.
****
2 hari kemudian..
Seluruh keluarga besarnya berkumpul. Setiap sebulan sekali mereka mengadakan acara keluarga.
" Syifa, mana calonmu ? katanya mau dikenalin sama bapak ibu.. "
" Calon apa sih bulek ? Syifa belum punya calon.
" Tuh ibumu nyidam pengen mantu anak kyai. udah ga sabar katanya. "
" Ahh, bulek ni ada-ada saja. "
Syifa tersipu malu. Ingin rasanya mengatakan kepada ibunya bahwa dia sudah menemukan seseorang yang sesuai keinginan ibunya. Tapi Syifa tidak berani, karena dia takut tidak direstui hubungannya.
Syifa masih kepikiran kekasihnya, setiap telfon selalu membahas kuliahnya di luar negeri nanti. Syifa takut kehilangan dia nantinya. ada kata-kata dari sang kekasih yang membuat sakit hati Syifa,
" Ukhti, kalau aku pulang dari luar nanti aku ingin dicarikan jodoh saja sama ibuku. Aku pasrahkan semuanya sama beliau, pilihan ibuku pasti yang terbaik. ibuku sudah tau gimana seleraku, jadi ya nurut aja sama ibu. "
" Ohh, ya syukur deh. " hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Syifa, tetapi hatinya bagaikan disayat-sayat.
dalam hatinya bertanya, " apa dia ngga mikir ? aku ini pacarnya, kenapa dia tega bilang begitu dihadapanku ? maksudnya apa ? "
pertanyaan itu selalu menghantui Syifa setiap hari.
****
Seminggu kemudian Syifa dan kekasihnya berencana bertemu di sebuah masjid, tempat dimana mereka pertama kali bertemu. sejam kemudian kekasihnya datang, Syifa datang lebih awal. tanpa basa-basi kekasihnya menggandeng tangannya untuk pergi ke suatu tempat, Syifa merasa ada yang aneh dengan kekasihnya itu.
Kekasihnya terus memandang wajah Syifa, matanya berkaca-kaca. Syifa heran dengan sikapnya yang tiba-tiba aneh seperti itu.
" Kamu kenapa ? dari kemarin kamu aneh. "
" Aku mau mengatakan sesuatu sama kamu Syif. Kamu cinta banget ya sama aku " kekasihnya memandang dengan penuh keyakinan sambil memegang tangan Syifa.
" Aku ngga tau Akh. " tangan Syifa kedinginan, dia gugup.
" Ukhti, sayangku. Ayo jawab pertanyaanku, kamu sayang banget ya sama aku ?? "
Syifa hanya terdiam, perasaannya tidak enak. Pasti ada sesuatu yang akan disampaikan dan dia tidak mengetahuinya.
Perlahan dia mulai mejawab pertanyaan dari kekasihnya, " Iya, aku cinta banget sama kamu. " air mata Syifa jatuh membasahi pipinya
" Ukhti, katamu dulu kita harus mencintai pasangan kita biasa-biasa saja. tapi kenapa Ukhti yang ingkar ? jujur sebenarnya aku juga sayang banget sama Ukhti. Tapi gimana lagi, aku ngga bisa mencintai Ukhti dengan biasa. Aku ngga ingin berpisah sama Ukhti, tapi mau gimana lagi. "
Suasana pun berubah menjadi dingin, Syifa memandang kekasihnya dengan tatapan kosong. dia masih bertanya-tanya apa maksudnya berbicara seperti itu.
" Ukhti, terima kasih udah mau menerimaku untuk hadir di kehidupan Ukhti. Selama ini mungkin aku banyak salah sama kamu, kamu terlalu baik untukku. Biarkan orang lain yang lebih dari aku yang mendapatkan Ukhti. Aku ini tak lebih dari manusia kotor, tak layak aku mendampingi hidupmu Ukhti. "
" Maksudnya apa ?? Akhi ngomong apa sih ? " dia bertanya dengan sedikit berteriak, air matanya tak bisa ditahannya lagi.
" Ukhti, kita berteman saja ya. Aku janji sama kamu, tidak akan ada wanita sebelum aku lulus S3 nanti. Aku tetap sayang kamu Ukhti, kamu ada disini, dihatiku. dan aku ada disini, dihatimu juga. selamanya Ukhti, kamu akan ada disini meskipun ada oran lain yang hadir dikehidupanku. "
Syifa tak bisa menahan air matanya yang terus membasahi pipinya, dia shock mendengar kekasihnya berkata seperti itu. Harapan demi harapan hilang sudah tersapu air mata, harapan ibunya hilang begitu saja. Dulu kekasihnya dibangga-banggakan, sekarang kebanggaan itu hilang sudah tanpa sisa sedikit pun. Rasa cinta kepadanya hilang dengan datangnya sakit hati.
****
2 bulan sudah mereka berpisah, tapi mereka masih tetap berhubungan meskipun hanya lewat handphone. Syifa memang masih mencintai kekasihnya itu, tetapi perasaan itu tak mungkin lagi tumbuh. Sebenarnya kekasihnya itu juga masih mencintai Syifa, dia terpaksa melakukan ini karena orang tuanya sudah mencarikan calon istri untuknya. dan Syifa pun tidak mengetahui hal ini sama sekali, dia tidak ingin Syifa sakit hati.
Sesekali kekasihnya itu bertanya tentang keadaan Syifa kepada temannya, dia masih memberikan perhatiannya kepada Syifa. Saat dia susah, dengan senang hati dia membantu Syifa. Tetapi Syifa hanya menanggapi biasa-biasa saja. Dia tidak ingin mengingat masa lalunya yang pahit itu.
Beberapa hari kemudian, teman kekasihnya menelfon Syifa.
" Assalamu'alaikum Syifa, gimana kabarnya ? "
" Alhamdulillah baik, kamu Ren ?
" Sama baik juga. oh ya, gimana kabar Farhan ? masih saling contact khan ? "
" Masih Ren, tapi aku agak menjauh dari dia. "
" Lho, kenapa Syif ? bukannya kalian masih saling suka.. "
" Aku cuma ngga pengen merasakan sakit hati itu lagi. "
" Ohh, baguslah. Dia juga udah tunangan kok Syif.. "
Syifa shock mendengar Rendi menyampaikan berita itu, dia tidak menyangka ternyata kekasihnya Farhan yang dulu berjanji tidak akan mencari wanita satupun sebelum lulus S3 ternyata sudah punya tunangan. Badan Syifa lemas, air matanya mulai jatuh, rasanya nyawanya sudah dipangkal ubun-ubun.
" Haloo.. Haloo.. Syifaa ? "
" Kamu tau dari siapa Ren ?? "
" Dari Farhan. Dia kemarin ngomong sama aku. Kamu datang ngga ke acara tunangannya nanti ? Nanti kamu aku jemput.. "
" Gilaaa. kamu nyuruh aku datang ke acara mereka. Cari mati kamu Ren ?? Kamu pikir aku ngga sakit hati melihat semua itu ?? " dengan suara lantang Syifa membentak Rendi.
" Maaaf Syif, aku ga bermaksud kok. "
Telfon langsung ditutup begitu saja oleh Syifa. Dia menangis sekeras-kerasnya tanpa memperdulikan keadaan. Seketika tubuh Syifa menjadi lemas, kepalanya pusing, kakinya tak bisa digerakkan, matanya merah, hidungnya mengeluarkan darah. Ibunya yang mengetahui keadaan Syifa tersebut langsung memanggil ambulan. Seluruh keluarganya cemas dengan keadaan Syifa, tubuhnya dingin seperti es, bibirnya yang merah menjadi biru seketika.
Setelah diperiksa ternyata Syifa menderita Leukimia, dia tidak sadarkan diri selama berhari-hari. Kata dokter dia shock berat, tetapi keluarganya tidak tahu menahu dengan masalah yang dihadapi oleh Syifa. Karena Syifa orangnya pendiam, tidak pernah curhat dengan siapapun, terutama ibunya.
*****
4 hari kemudian...
Syifa akhirnya sadar, seluruh keluarganya tersenyum bahagia. Tetapi badan Syifa semakin hari semakin kurus, tak subur seperti dulu. Dulu badannya subur, terlihat segar, tetapi sekarang seperti tinggal tulang dan kulitnya saja.
Saat terbangun dia memanggil nama Farhan terus-menerus. Semua keluarganya kebingungan, siapa yang dimaksud Syifa itu?!
Esok harinya teman-teman Syifa menjenguknya. Teman-temannya miris melihat keadaan Syifa yang sekarang, tidak tega. Sahabatnya, Nadia terus menangis melihat Syifa yang tinggal tulang dan kulitnya saja. Rasanya yang terbaring disitu bukan Syifa, mereka seakan tidak percaya apa yang di lihat dihadapan mereka saat ini.
Syifa melambaikan tangan dan tersenyum dengan teman-temannya. Mereka pun membalas dengan lambaian tangan dan senyuman. Nadia, Rani, Tika, dan Lina tak bisa menahan air matanya. Teman mereka yang dulu lincah, kini terbaring tak berdaya dirumah sakit. Yang dulunya cantik, kini wajahnya keriput.
Nadia memberitahu Farhan dengan keadaan Syifa sekarang. dan dimana hari itu tepat pada hari bertunangannya Farhan dengan wanita pilihan orang tuanya. Teman-teman Syifa tidak mengetahui tentang ini semua bahwa Farhan sudah dijodohkan. Tanpa berfikir panjang, Nadia menelfon Farhan
" Farhan kamu dimana ?? Syifa sakit, udah seminggu lebih dia dirumah sakit. "
" Apa? Syifa sakit ?? MasyaAllah.. sakit apa Nad ??? "
" Kata ibunya dia mengidap leukimia stadium 4. Astaghfirullah, keadaannya sekarang memprihatinkan. " Nadia menangis
" Lalu apa yang harus aku lakukan Nad ?? "
" Kamu bisa jenguk dia ? Dari kemarin kata ibunya dia terus manggil nama kamu, sepertinya dia ingin sekali bertemu denganmu. "
" Tapi Nad, aku ngga bisa kalau sekarang. aku sibuk, lagi ada acara keluarga. " Farhan tidak mengaku bahwa dirinya hari itu ada acara tunangan.
" Aku ngga mau tahu, sesibuk apapun kamu harus tetap pergi kesini. Kalau kamu tidak pergi sekarang juga, kamu akan menyesal seumur hidupmu, Farhan. " Nadia sedikit memaksa karena dia tahu umur Syifa tidak lama lagi.
Tanpa berfikir panjang, Farhan kabur di acara pertunangannya itu. dia kabur lewat jendela, dia merelakan semuanya demi Syifa yang dicintainya. 5 jam perjalanan Farhan tempuh menuju kota Jogja, dia terus berdoa di sepanjang perjalanan. Dia menangis, menyesal telah menyakiti hati Syifa dengan orang lain. Sesampai di terminal, Farhan langsung menuju rumah sakit. Dia turun dari taksi dan bergegas masuk ke dalam, dia mencari-cari kamar yang dimaksud Nadia tadi.
Farhan melihat segerombolan orang diluar, semua yang ada disitu melihat ke arah Farhan. Dia yang masih mengenakan kemeja, jas, dasi, dan sepatu menjadi sorotan orang-orang diisitu. Nadia langsung membawa Farhan ke dalam, dan Farhan pun melihat Syifa terbaring lemah disitu.
Farhan menangis sekuat-kuatnya, merasa berdosa dengan apa yang telah dia lakukan terhadap Syifa selama ini. Syifa yang dulu dia kenal, wajahnya cantik, badannya subur, kulitnya mulus, matanya indah, bibirnya yang merah, yang dulunya lincah dan periang, kini menjadi keriput, tubuhnya kurus, matanya sipit, bibirnya berubah biru, sekarang terbaring lemah di atas kasur.
" Ya Allah, Syifa. Ukhti, inikah kamu ? Masya Allah... " Farhan tak kuasa melihat keadaan Syifa.
" Iya, ini aku. kenapa ? aku tidak secantik dulu kan ? Aku sekarang lemah tak berdaya, ini Syifa yang sekarang bukan yang dulu lagi. Kamu kenapa menangis ? Tak perlu ada yang ditangisi, ini sudah menjadi takdirku. " Syifa berbicara sedikit terbata-bata.
" Ukhti, maafkan aku. Selama ini aku hanya merepotkanmu, membuatmu susah. Kehadiranku sungguh tidak berarti Ukhti. "
" Aku sudah memaafkanmu, sudah jangan di ungkit lagi kisah kita yang dulu. Kenapa kamu kesini ? siapa yang memberitahumu ? Bukankah hari ini kamu bertunangan ? "
Nadia dan semua teman-temannya kaget mendengarnya.
" Aku diberitahu Nadia. Aku kesini kabur Ukhti, mereka tidak tahu kalau aku kabur. Ini bukti bahwa aku masih mencintaimu Ukhti. Aku masih mencintaimu, sungguh. "
" Akhi, tak perlu kamu melakukan hal bodoh seperti ini. Tak ada lagi cinta kita, tak ada lagi kisah manis kita. Sekarang tinggal kenangan, kamu sudah menemukan jodohnya. Kejarlah, Pergilah dengan wanita pilihan orang tuamu. Jangan kau kecewakan dia, bahagiakan dia, jagalah dia, nasehati dia, berikan rasa cintamu kepadaku untuknya, bimbing dia. " Syifa memohon sambil memegang tangan Farhan.
Farhan hanya bisa menangis, tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya mengangguk tanda mengiyakan permohonan dari Syifa.
Syifa meminta agar seluruh keluarga dan teman-temannya berkumpul disitu. Kata terakhir yang diucapkan Syifa untuk Farhan hanya, " Aku mencintaimu karena Allah, Akhiku. "
Farhan terus menangis, dan menuntunnya agar mengatakan syahadat. Syifa pun mengikuti, semua yang berada dalam ruangan tak kuasa menahan air matanya, terutama ibu dan bapaknya.
Perlahan nyawa Syifa ditarik oleh Sang pencabut nyawa, mulai dari kaki, perut, dada, tenggorokan, kemudian ubun-ubun. dan akhirnya masa hidup Syifa berakhir disini. Keinginan untuk bertemu Farhan sudah terwujud, dia bisa tenang di alamnya nanti. Syifa meninggal dengan wajah tersenyum, wajahnya berseri-seri.
Sekian..
~ Sang Pengagum Pena ~
Rabu, 23 Juni 2010
Pergilah Dengan Wanita Pilihan Orang Tuamu ( Cerpen Perdanaku )
Jumat, 18 Juni 2010
Apakah Kesialan Itu Ada dalam Pandangan Islam ??
“Tidak ada penularan, tidak ada Thiyaroh, tidak ada Hammah dan tidak ada Shafar”. (HSR. Bukhary-Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Secara bahasa, kata thiyaroh (kesialan/pamali) adalah isim mashdar dari kata tathoyyur yang mana asal katanya adalah tho` irunyang berarti burung. Hal ini karena dulu, orang-orang Arab jahiliyah ketika mereka hendak mengadakan suatu perjalanan maka mereka terlebih dahulu melempar seekor burung ke udara, jika burungnya terbang ke kanan maka mereka melanjutkan rencana keberangkatan mereka karena itu adalah pertanda baik dan jika burungnya terbang ke kiri maka mereka membatalkan perjalanan tersebut karena itu adalah pertanda jelek.
Adapun secara istilah thiyaroh adalah menjadikan/menyandarkan kesialan kepada sesuatu yang dilihat atau yang didengar atau yang diketahui. Contoh sesuatu yang dilihat, bila akan bepergian atau melakukan kegiatan lainnya lalu memperhatikan ke arah mana burung terbang, bila ke kanan maka berangkat, bila ke kiri maka tidak, atau tiba-tiba melihat kecelakaan di luar rumahnya maka ia urungkan niatnya untuk berangkat, atau orang yang berangkat ini tanpa sengaja menjatuhkan piring, gelas atau hal lainnya di dalam rumahnya lantas ia tidak jadi berangkat. Contoh sesuatu yang didengar, bila ia mendengar suara burung hantu atau burung gagak yang hinggap di atas rumahnya, maka ia mengurungkan maksudnya untuk berangkat atau melakukan kegiatan lainnya, atau tiba-tiba orang itu mendengar seseorang berkata kotor atau hal yang mengandung kesialan kepada orang lain atau kepada dirinya sendiri : hai celaka!, hai sial! dan lain-lain, lantas ia mengurungkan maksudnya. Contoh sesuatu yang diketahui misalnya menganggap kesialan dengan waktu, hari, bulan, dan sebagian tahun, misalnya menganggap atau menjadikan kesialan pada malam Jum’at atau hari Jum’at, terlebih pada Jum’at Kliwon atau menganggap angka 13 sebagai kesialan, atau tidak melakukan kegiatan besar pada sebagian bulan-bulan dalam penanggalan Hijriah, misalnya tidak melangsungkan pernikahan atau kegiatan lain pada bulan Syawwal, atau bulan Shafar atau bulan lainnya.
Dan hukum thiyaroh dengan semua bentuk di atas dan selainnya adalah syirik ashgor (kecil) bahkan bisa mencapai taraf syirik akbar (besar) jika dia sudah berkeyakinan bahwa hari itulah atau kejadian yang dia lihat itulah yang sebenarnya mendatangkan mudharat dengan sendirinya keluar dari pengaturan Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda dalam hadits Ibnu Mas’ ud radhiallahu ‘anhu:
“Thiyaroh adalah kesyirikan, thiyaroh adalah kesyirikan”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzy dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 429)
Bahkan thiyaroh ini adalah salah satu sifat dari orang-orang musyrik terdahulu, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan tentang Fir’aun dan para pengikutnya :
“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Al-A’raf : 131)
Dan juga firman Allah Ta’ala :
“Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”. Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas””. (QS. Yasin : 18-19)
Dan dengan bertathoyyur atau mempercayai adanya, maka seorang akan keluar dari 70.000 orang yang masuk Surga tanpa hisab dan tanpa adzab, yang Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam –dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma- telah mengabarkan tentang sifat mereka :
“Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay (4), tidak bertathayyur dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal” . (HSR. Bukhary-Muslim).
Oleh karena itu, perbuatan tathoyyur ini bisa menafikan tauhid atau mengurangi kesempurnaan tauhid yang wajib, hal ini bisa ditinjau dari dua sisi:
* Bahwa tathayyur ini memutuskan ketawakkalannya kepada Allah dan bersandar kepada selainNya, yang mana hal itu tidak bisa memberikan manfaat dan mendatangkan mudharat.
* Bahwa tathayyur ini menjadikan ketergantungan hati kepada suatu perkara yang tidak ada hakekatnya sama sekali, bahkan ini adalah persangkaan belaka dan takhayul.
Dan tidak diragukan bahwa kedua hal di atas mencacati nilai-nilai tauhid, karena tauhid adalah ibadah dan isti’anah (permintaan tolong) hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. (QS. Al-Fatihah : 4)
Dan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah bersabda :
“Jika engkau meminta pertolongan, minta tolonglah hanya kepada Allah”. (HR. At-Tirmidzy dari shahabat ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma).
Maka yang sepantasnya bagi seorang muslim adalah hendaknya dia berpaling dari thiyarah ini dan melanjutkan atau mengerjakan setiap amalan yang hendak dia kerjakan dengan penuh ketenangan, tanpa menyusahkan dirinya dengan perkara-perkara seperti ini, bahkan wajib atasnya untuk menjauhi buruk sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan jangan merasa lemah dalam mengerjakan suatu amalan. Dan sebaliknya dia wajib untuk bersandar dan bertawakkal hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, pasrah kepadaNya, percaya bahwa semua perkara berada di tanganNya dan di atur olehNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Yunus : 107)
“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal”. (QS. At-Taubah : 51)
7 Ciri Kebahagiaan Dunia
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi Shalallahu Alaihi Wa sallam yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam , dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid.
Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam ) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah Subhanahu Wa ta’ala, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam yaitu :“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam lagi thawaf. RasulullahShalallahu Alaihi Wa sallam bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?”Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi Shalallahu Alaihi Wa sallam , “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sesering dan se-khusyu’mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam .
Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah.Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.Kata Nabi Shalallahu Alaihi Wa sallam , “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya :“Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi Shalallahu Alaihi Wa sallam kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Insya Allah, amiin.
Selasa, 15 Juni 2010
Memang Tidak Untuk Dibawa
Terkadang ummahat memiliki pertanyaan tentang boleh tidaknya membawa anak dalam sebuah acara. Tidak jarang beberapa ikhwah bersepakat untuk melakukan rihlah tanpa membawa istri dan anak-anak mereka. Beberapa undangan mencantumkan permohonan untuk tidak membawa anak di bawah lima tahun. Sapaan akrab semacam, "Anak-anak enggak dibawa, Bu?" atau "Sendiri nih, istri ditinggal?" mungkin kerap terdengar di keseharian kita. Pernah pula seorang pembicara seminar keluarga dengan bersemangat bercerita tentang bagaimana ia dan suaminya berbagi tugas membawa anak dalam acara-acara mereka.
Sebaliknya, kita jarang mendengar pertanyaan tentang boleh tidaknya mengajak anak; sejarang itu pula kita menyepakati untuk tidak melibatkan suami atau istri kita dalam sebuah acara. Undangan yang menyebutkan permohonan untuk tidak mengajak anak di bawah usia 5 tahun juga langka dalam keseharian kita. Sapaan-sapaan yang menggunakan kata’ajak’ masih lebih jarang terdengar daripada sapaan yang menggunakan ‘bawa’ atau ‘membawa’.
Fenomena di atas bisa saja kita tatap sekadar sebagai sebuah diksi. Tetapi, bisa pula kita tatap sebagai sebuah ekspresi dari sebuah perlakuan. Kata ‘bawa’ atau ‘membawa’ membutuhkan objek yang berbeda dengan kata ‘ajak’ atau mengajak’. Untuk objek barang atau binatang, mungkin, kata ‘bawa’ atau ‘membawa’ cukup memadai. Berbeda halnya jika objek tersebut adalah istri atau suami, anak dan kawan atau saudara, kata ‘ajak’ atau ‘mengajak’ tampaknya lebih tepat, lebih santun, dan lebih menghargai.
Dengan sedikit mempertimbangkan pemilihan kata maka pertanyaan serasa lebih menghargai jika menjadi, "Boleh mengajak suami, Bu?" Kesepakatan para ikhwah menjadi lebih santun dengan sebuah kesepakatan untuk tidak mengajak istri dan anak-anak. Catatan tambahan sebuah undangan serasa lebih enak dibaca dengan mengubahnya menjadi permohonan untuk tidak mengajak anak di bawah usia 5 tahun. Sapaan-sapaan kita tetap akrab atau bahkan menjadi lebih akrab dengan mengubah ‘bawa’ dengan ‘ajak’ untuk istri, suami, atau anak-anak.
Istri atau suami kita memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, istri atau suami dan anak-anak adalah mad’u bagi para dai di jalan Allah. Jika Hasan Al-Banna secara umum menyebutkan bahwa dakwah di jalan Allah memerlukan tiga pilar, yaitu pemahaman, keimanan, dan kecintaan. Maka berdakwah kepada istri/suami dan anak-anak juga memerlukan ketiga pilar tersebut. Maksud dari pilar kecintaan adalah sebuah perasaan cinta yang kuat terhadap dakwah dan terhadap sesama pendukung dakwah. Perasaan cinta ini juga dituntut dalam dakwah keluarga ini.
Di sisi yang lain, mungkin istri kita juga seorang daiyah yang memiliki sekian taklim, sekian liqa’, dan menjadi pembicara yang laris. Sebagaimana halnya dengan suami para daiyah tersebut. Mereka adalah para dai yang memiliki amanah dakwah yang besar.
Oleh karena itu, keluarga dai adalah tempat bertemunya dua juru nasihat, dua pemberi peringatan, dua orang yang senantiasa optimis dalam hidupnya, dua pembaru, dua aktivis, dua ustadz, dua pejuang, dua pemimpin umat, dan dua lain-lainnya.
Keluarga dai memang harus dinamis. Di dalam keluarga itu harus ada nasihat untuk juru nasihat; harus ada peringatan untuk pihak yang terbiasa memberikan peringatan; harus ada penumbuhan optimisme kepada orang yang tampak selalu optimis; harus ada perlindungan kepada orang-orang yang terbiasa berada di bagian terdepan di medan pertempuran; harus ada pembaruan kepada para pembaru; harus ada tatsqif kepada dua ustadz secara timbal balik; harus ada penumbuhan semangat di dalamnya. Hanya dengan itu, keluarga dai menjadi dinamis.
Didorong oleh tuntutan adanya timbal balik dakwah dalam keluarga dai maka meletakkan suami atau istri di pihak yang lain sebagai manusia dewasa adalah sebuah prinsip. Menggunakan kata ‘ajak’ sebagai ganti kata ‘bawa’ adalah sebuah hal yang layak untuk dipertimbangkan. Manusia dewasa adalah pihak yang yang patut dihormati dan dihargai. Dengan menghormatinya, suami atau istri dan mungkin anak-anak akan terpacu untuk berpikir dan mengemukakan pendapatnya. Dengan menghargainya, ia akan terhindar dari kematian semangat dan gairah hidup. Dinamis atau tidaknya keluarga dai ditentukan oleh peran serta take and give di antara istri dan suami serta anakanak. Istri aktif memberi dan menerima, demikian pula dengan suami terhadap istrinya.
Akhirnya, memberi dan menerima memang bukan urusan membawa atau dibawa, tetapi lebih kepada persoalan mengajak atau diajak. Sudahkah Anda tarbiyah? Sudahkah Anda tarbiyah adalah sudahkah Anda menghargai pasangan Anda? Sudahkah tarbiyah adalah sudahkah Anda mengajak pasangan dan keluarga Anda? Wallahua’lam.
~ Sang Pengagum Pena ~
Prasangka memang hanya lintasan hati. Karenanya, berprasangka sebenarnya manusiawi. Tak ada orang yang mampu meredam atau menahan yang namanya lintasan hati. Tak ada orang yang tak pernah memiliki prasangka buruk terhadap orang lain. Tak seorang pun bisa menghilangkan sama sekali lintasan hatinya. Itu sebabnya, para sahabat mengajukan keberatannya kepada Rasulullah saat turun ayat "Dan bila engkau menampakkan apa yang ada dalam hatimu, atau engkau menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu." (QS. Al-Baqarah : 284) Para sahabat yakin tak mampu menghalangi lintasan hatinya, jika itu termasuk dalam hitungan amal mereka. Akhirnya Allah menurunkan ayat selanjutnya, "Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang kecuali sebatas kemampuannya."
Imam Ghazali mengurai penjelasan buruk sangka dalam satu sub tema tentang ghibah, membicarakan keburukan orang lain. Menurutnya, buruk sangka tak lain adalah ghibah bathiniyah (membicarakan keburukan orang dengan hati). "Sebagaimana Anda diharamkan untuk menyebut keburukan-keburukan orang lain, maka demikian pula Anda diharamkan untuk berburuk sangka pada saudara Anda," begitulah kata Imam Ghazali.
Apa yang harus dilakukan agar bisa menghindari bahaya buruk sangka?
Pertama, tumbuhkan empati kepada orang yang menjadi objek buruk sangka. Rasakanlah bila objek buruk sangka itu adalah diri Anda sendiri yang sangat mungkin mengalami banyak kekurangan. Tips ini sama dengan apa yang dianjurkan oleh Imam Ghazali, ketika ia membahas masalah ghibah. Untuk menghindari ghibah, menurut Imam Ghazali, salah satunya dengan merasakan bagaimana bila yang menjadi objek pembicaraan itu adalah diri sendiri. Bila kita senang mendengarnya, maka teruskanlah bicara. Tapi bila tidak, maka jauhilah pembicaraan negatif itu. Sama dengan kondisi ghibah dalam hati, cara menghindarinya bisa dengan membandingkan kondisi kita dengan kondisi orang yang menjadi objek prasangka.
Kedua, teliti dari mana sumber perasaan negatif, atau buruk sangka itu muncul. Bila ia datang dari informasi seseorang, langkah yang paling baik adalah melakukan pertanyaan lebih detail tentang asal usul berita miring itu. Apakah nara sumber berita itu benar-benar telah mengetahui secara autentik tentang kejadian yang memunculkan prasangka itu? Atau bisa juga ditanyakan langsung kepada yang bersangkutan tentang benar tidak-nya berita negatif tersebut. Bila Anda merasakan bahwa informasi itu belum tentu benar, berupayalah menghapuskan memori informasi itu dari pikiran Anda.
Ada riwayat hadits menarik yang disampaikan oleh Imam Ahmad dengan sanad shahih. Suatu ketika ada seorang lelaki melewati suatu kaum yang sedang berada dalam sebuah majlis. Orang laki-laki itu mengucapkan salam, mereka pun menjawab salam orang tersebut. Tapi tak berapa jauh orang itu pergi, salah seorang dalam majlis itu berkata, "Sesunguhnya aku membenci orang itu karena Allah." Orang yang mendengar perkataan itu terkejut dan mengatakan, "Buruk sekali apa yang engkau ucapkan. Demi Allah akan aku adukan hal ini pada Rasulullah."
Orang yang telah lewat itu kemudian dipertemukan oleh Rasulufah dengan orang yang memiliki prasangka buruk itu. "Mengapa kamu membencinya?" tanya Rasul. "Aku tetangganya, dan mengenalnya. Demi Allah aku tidak pernah melihatnya melakukan shalat kecuali yang diwajibkan," katanya. Orang itu berkata, "Tanyalah wahai Rasulullah, apakah ia pernah melihatku mengakhirkan sholat di luar waktunya atau aku pernah salah berwudhu, ruku’ atau sujud?" Orang yang berprasangka buruk itu mengatakan, "Tidak." Kemudian ia mengatakan, "Demi Allah aku tidak pernah melihatnya berpuasa sebulan kecuali pada bulan yang dipuasai oleh orang baik dan durhaka." Orang yang dituduh itu mengatakan, "Tanyakan wahai Rasulullah, apakah dia pernah melihatku tidak puasa pada bulan Ramadhan, atau aku mengurangi haknya?" Orang itupun menjawab, "Tidak."
Tapi ia masih menambahkan lagi alasan kebenciannya. "Demi Allah aku belum pernah melihatnya memberi orang yang meminta minta atau orang miskin sama sekali, aku juga tidak pernah melihatnya menginfakkan sesuatu di jalan Allah kecuali zakat yang juga dilakukan oleh orang yang baik dan durhaka," katanya. Orang yang dituduh itu mengatakan, "Tanyakan padanya ya Rasulullah, apakah dia pernah melihatku mengurangi zakat atau aku pernah menzalimi pemungut zakat yang memintanya?" Orang itu menjawab, "Tidak." Akhirnya Rasulullah berkata pada orang yang melontarkan kebencian tanpa alasan yang jelas itu. "Pergilah, barangkali dia lebih baik dari pada dirimu," ujar Rasulullah.
Ketiga, bila sumber informasi itu muncul dari dalam hati sendiri tanpa sebab-sebab yang jelas, kecuali sekadar penampilan lahir atau kecurigaan belaka. Beristigfar, dan mohon ampunlah pada Allah swt atas kekeliruan lintasan hati negatif itu. "Seseorang tidak boleh meyakini keburukan orang lain kecuali bila telah nyata dan tidak dapat diartikan dengan hal lain kecuali hanya dengan keburukan," begitu nasihat Imam Al-Ghazali.
Beliau mencontohkan, jika seseorang mencium bau minuman khamar dari mulut seseorang, ia masih belum boleh memastikan bahwa ia telah minum khamar, karena masih ada kemungkinan untuk dikatakan bahwa dia berkumur-kumur saja dan tidak meminumnya, atau mungkin dia dipaksa meminumnya.
Menurut Imam Ghazali, sesuatu yang tidak disaksikan dengan mata kepala dan tidak didengar dengan telinga sendiri, tapi muncul di dalam hati, maka itu tidak lain merupakan bisikan setan yang harus ditolak, karena syetan adalah makhluk yang fasik. Allah swt berfirman, "Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya." (QS.Al-Hujurat:6)
Keempat, sadarilah bahwa lahiriyah seseorang tidak selalu identik dengan batinnya. Islam sama sekali tak mengajarkan penilaian seseorang dari aspek lahirnya. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh kalian, tapi melihat pada hati kalian." Dalam hadits shahih yang lain disebutkan pula bagaimana Rasulullah menggambarkan bahwa kondisi orang yang secara lahiriyah kurang baik, berdebu, rambutnya kumal, dan banyak dipandang hina oleh seseorang, tapi orang tersebut adalah orang yang paling didengar doanya oleh Allah swt. Sebaliknya, orang yang bersih, dan menarik penampilan lahiriyahnya, ternyata orang itulah yang memiliki penilaian tidak baik di mata Allah swt.
Naif sekali, merasa curiga dan berburuk sangka karena alasan lahir. Allah swt bahkan menjelaskan bahwa di antara orang munafik biasanya memiliki penampilan yang memukau. "Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum." (QS. Al-Munafiqun : 4)
Kelima, terimalah fakta bahwa setiap orang pasti pernah lepas kontrol sesekali. Tidak perlu mengembangkan perasaan dan dugaan terlalu besar dengan suatu kesalahan yang dilakukan seseorang. Kesalahan itu adalah hal lumrah bagi manusia. Karenanya, coba arahkan perhatian itu pada diri sendiri, bukan pada orang lain. Terlalu besar memperhatikan kesalahan orang lain, merupakan salah satu sebab seseorang menjadi mudah mencurigai dan berburuk sangka. Ingatlah prinsip yang diajarkan Rasulullah saw, Berbahagialah orang yang disibukkan oleh aib dan kesalahan dirinya, ketimbang sibuk oleh aib dan kesalahan orang lain.
Keenam, salah satu pemicu buruk sangka adalah rasa was-was atau bayangan ketakutan yang akan kita terima akibat pihak tertentu. Untuk mengatasinya, tumbuhkan keyakinan kuat bahwa Allah swt Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas seluruh gerak gerik hambanya. Apa saja yang terjadi merupakan kehendak dan kekuasaan Allah swt. Keyakinan ini akan memunculkan kepasrahan dan ketenangan, serta tidak mudah membayangkan resiko pahit yang belum tentu benarnya. Keyakinan ini juga yang akan mengusir perasaan was-was dan bayangan menakutkan yang tak jelas ujung pangkalnya.
Ketujuh, untuk mematahkan gangguan syetan, terapi yang paling penting adalah dengan dzikir kepada Allah dan berusaha memperbanyak amal-amal ketaatan. Keduanya akan sangat menciptakan suasana hati yang hidup, bersih dan jernih. Hal ini lebih jauh akan menumbuhkan kualitas iman yang semakin tidak mudah bagi syetan untuk bersemayam di dalam hati. Di sinilah, seseorang akan mendapat cahaya Allah swt sehingga pandangannya akan mengarah pada firasat yang benar. Takutlah dari firasat seorang mu’min karena ia melihat dengan Nur Allah. (HR. Turmudzi)
Kedelapan, mintakan ampun kepada orang yang menjadi objek prasangka tanpa alasan yang jelas. Itu salah satu kafarat ghibah yang disebutkan oleh Imam Ghazali rahimahullah. Menurutnya, doa tersebut dapat menjengkelkan syetan sehingga syetan tidak bisa memasukkan lintasan negatif atas seseorang. Prasangka, menurutnya sama dengan ghibah dalam hati. Maka, tebusannya antara lain dengan memohon ampunan kepada Allah atas saudara yang dicurigai itu.
~ Sang Pengagum Pena ~
Kehidupan Malam
Dunia malam bagai pisau bermata dua. Dunia yang satu ini memiliki kekuatan dan beribu misteri. Pertarungan kebaikan dan kesesatan, haq dan bathil sepanjang siang hari sangatlah dahsyat. Pertarungan yang membutuhkan energi yang tidak sedikit. Masing-masing pembela kebenaran dan kesesatan menumpahkan segala daya kemampuan yang dimilikinya.
Ternyata malam lah yang menjadi pusat penghasil energi dan pengumpulnya. Kedua kekuatan yang bertolak belakang hingga hari akhir itu, masing-masing menggunakan jeda malam untuk mengumpulkan tenaga. Untuk bertarung meraih pendukung di esok hari.
Tentu kita ingin meniru dunia malam orang-orang sholeh. Karena kita ingin sholeh dan baik seperti mereka. Kita ingin merenda malam kita yang banyak terkoyak oleh aktifitas yang tidak berguna atau bahkan membahayakan. Padahal malam adalah ghonimah cuma-cuma yang disediakan untuk kita. Kita ingin merasakan hakekat kenikmatan dunia yang maya ini sebagaimana mereka telah merasakan kenikmatan itu.
Tetapi tidak mudah. Sudah sekian lama malam kita datang dan kemudian berlalu. Datang menawarkan intan dan mutiara, tidak lama kemudian pergi dengan kecewa karena kita tidak peduli. Inilah bagian dari resep mereka yang telah berhasil menghiasi malam-malam yang indah itu. Agar ringan mata ini terjaga, kaki ini berdiri sholat, dan kepala ini sujud dihadapan keagungan-Nya.
1. Dawud Ath-Tho’i, "Aku ingin sekali dianugerahi kebaikan di waktu malam,”
Tekad. Itulah makna di balik kata Dawu Ath-Tho’i ini. Selanjutnya ia berkata, “Tidak ada yang lebih aku iri dari seseorang, kecuali ketika dia bisa sholat malam.” Kebaikan apa pun tidak akan sampai kepada kita tanpa tekad yang kuat. Manakah mutiara di dasar lautan dapat diraih tanpa ada tekad baja untuk menyelami dalamnya lautan. Karena kebaikan ini terjal. Karena kebaikan ini sulit. Kawasan terjal dan sulit tidak akan dilalui oleh mereka yang hidup tanpa tekad untuk melaluinya.
Nyala tekad di hati kita harus terus dipompa. Agar sinarnya benar-benar bisa membukakan mata kita yang sedang asyik terpejam. Menguatkan kaki kita untuk melangkah menuju tempat berdua dengan pencipta kita. Apalagi, ini malam hari. Tanpa tekad, malam yang dingin ini lebih nikmat jika kita habiskan di bawah selimut tebal. Lebih segar jika mata kita manjakan sampai esok fajar pagi menyapa.
Membangun tekad seperti membangun sebuah pondasi bangunan. Bangunan tekad ini haruslah tertancap kuat di dasar hati kita. Karena dia akan bisa usang karena waktu. Dan bisa goyah karena terpaan tornado musibah.
Tekad ini bisa kita tumbuhkan dengan kembali mengingat mahalnya detik-detik yang disediakan Allah. Betapa banyak janji-Nya untuk yang berhasil menghidupkan malamnya dengan ibadah. Mulai janji ampunan, do’a yang cepat terkabul, ruang ketenangan jiwa kita yang lelah oleh dunia, hingga surga yang siap menanti dengan segala kenikmatannya. Setiap detiknya sangat berharga. Detik-detik yang berbeda sama sekali dengan detik di siang hari.
Menumbuhkan tekad bisa juga dengan cara mencermati deretan nama besar dalam sejarah Islam. Karena ternyata kebesaran mereka tidak mungkin dilepaskan dari aktifitas malam. Qiyam, tilawah, menangisi dosa, mengingat akhirat, dan do’a-do’a panjang. Itulah yang membuat mereka kemudian besar, selamanya terukir dalam sejarah gemilang.
Nuruddin Mahmud Zanki adalah nama besar yang dikenang dalam perang salib. Dia berhasil meruntuhkan kesombongan pasukan salib. Kemenangan demi kemenangan dia raih, Hingga perbincangan antar pasukan salib terjadi. Mereka berkata, “Kemenangan Nuruddin Zanki bukan karena jumlah pasukannya yang lebih banyak. Tapi mempunyai rahasia bersama Tuhan. Dia menang karena do’a dan sholat malamnya. Dia sholat malam dan mengangkat tangannya untuk berdo’a dan Tuhannya mengabulkan permohonannya."
Inilah yang diistilahkan oleh Ibnu Katsir tentang dirinya, “Dia itu kecanduan sholat malam, puasa banyak, berjihad dengan akidah yang benar.”
Pantaslah kalau masjid Aqsho bisa diraih kembali. Itulah pemimpinnya, dan inilah panglimanya, Sholahuddin Al-Ayyubi. “Dia selalu menjaga sholatnya dalam jamaah. Selalu menjaga sholat sunah dan jika malam tiba dia sholat malam. Dia juga sangat senang mendengarkan Al Qur’an, lembut hatinya deras air matanya. Jika mendengar Al Qur’an hatinya khusyuk dan matanya menangis sepanjang hari-harinya," jelas Qodhi Bahauddin yang hidup sejaman dengan Sholahuddin.
Satu lagi kisah penaklukan Konstantinopel di tangan pemberani Sultan Muhammad Al Fatih. Sehari sebelum penaklukan, dia menganjurkan pasukannya untuk berpuasa. Dan pada malam harinya, dia sholat malam dan berdo’a bersama tentaranya.
Semoga dengan membaca kisah-kisah mereka, ada gerak tekad yang terus mendesak maju. Karena kebesaran mereka tergantung seberapa hidup malam mereka.
2. Rasulullah, " Sedikitkan makan, karena orang yang paling kenyang di dunia akan menjadi orang paling lapar di akhirat."
Tidak banyak makan. Itulah salah satu resep sederhana yang dianjurkan oleh Rasulullah. Paling kenyang di dunia paling lapar di akhirat? Ya, mungkin inilah yang ingin dijelaskan oleh Imam Ghozali dalam pernyataannya, “Janganlah banyak makan karena kalian akan banyak minum dan menyebabkan banyak tidur, akhirnya, kalian banyak menyesal.”
Menyesal telah melewatkan saat-saat penting untuk meraih kesuksesan. Menyesal karena telah kehilangan banyak pahala. Menyesal karena di akhirat sangat membutuhkan amal yang banyak untuk menjalani kehidupan yang tiada titiknya. Sementara ladang kebaikan di malam hari telah banyak kita lewatkan.
Banyak makan akan membebani perut. Tentunya ini akan menjadi beban yang cukup berat buat mata dan fisik kita. Makan adalah aktifitas yang banyak menuntut tidur setelah itu. Banyak makan juga membuat konsentrasi otak tertuju hanya kepada perut. Jadilah kita seperti yang dikatakan oleh Bakar bin Khunais, “Orang yang sedikit makan menjadi lebih paham terhadap nasehat dan hatinya lebih cepat menuju kelembutan. Sementara banyak makan akan banyak menghilangkan kebaikan.”
Sedikit makan adalah kebiasaan baik yang sudah menjadi tradisi orang-orang sholeh sejak dulu. Sejak jaman Bani Israil bahkan. Seperti yang diceritakan oleh Aun bin Abdillah, "Dulu pemimpin Bani Israil berkata saat mereka sedang berbuka puasa, ‘Jangan makan banyak, karena jika kalian makan banyak kalian akan tidur banyak. Jika kalian banyak tidur akan sedikit sholat.’"
Walaupun dalam sejarah disebutkan bahwa ada sebagian orang besar yang makan banyak tetapi tetap sholat malam. Sufyan Tsauri lah orangnya. Tentang penggabungan dua hal yang bertolak belakang itu Syekh Abdul Qodir Jailani berkata, “Jangan meniru Sufyan dalam masalah banyak makan. Tetapi tirulah dalam banyaknya ibadah. Karena kamu bukan Sufyan. Janganlah kamu terlalu kenyang seperti Sufyan, karena kamu tidak mampu menguasai dirimu seperti halnya Sufyan menguasai dirinya."
Dan Sufyan sendirilah yang berkata, “Sedikitkanlah makanmu, akan kalian dapat qiyamullail.” Kalau kita bisa seperti Sufyan, tentu tidak ada larangan. Tetapi jika tidak, jadilah seperti yang dikatakan oleh Syekh Abdul Qodir Jailani.
3. Ayah Muawiyah bin Qorroh, “Wahai anakku, tidurlah semoga Allah memberimu kebaikan di malam hari."
Tidur yang benar. Sesuai dengan sunnah Rasulullah. Ajaran Rasullah tentang tata cara tidur bukan saja mendatangkan pahala sebagai amalan sunah, tetapi juga mendatangkan kebaikan berupa mudahnya bangun malam.
Apa yang dikatakan Muawiyah bin Qorroh menceritakan kebiasaan ayahnya yang selalu berkata kepada anak-anaknya bahwa selepas sholat Isya merupakan salah satu tuntunan tidur ala Nabi. Di mana sang ayah melarang anaknya untuk asyik bercengkerama dan menghabiskan malam, hanya dengan berbincang hal yang tidak penting dan tidak bermanfaat.
Setiap kita membutuhkan tidur dalam rentang waktu tertentu. Ketika kurang, tentu rasa kantuk tidak akan beranjak dari mata kita. Apalagi kalau tekad untuk bangun malam hanya setengah-setengah atau tidak ada sama sekali.
Bisa jadi ayah Muawiyah bin Qorroh meniru apa yang diajarkan Aisyah kepada keponakannya, Urwah. Suatu malam dia menginap di ruangan yang tidak jauh dari rumah Aisyah. Malam itu ia asyik berbincang dengan teman-temannya. Aisyah pun menegurnya, “Wahai Urwah, perbincangan apa ini? Aku tidak melihat Nabi tidur sebelum Isya dan ngobrol setelahnya. Kalau beliau tidak tidur sehingga bisa beristirahat, maka beliau sholat untuk mendapatkan banyak keberuntungan."
Dalam kesempatan yang lain Aisyah menegurnya dengan redaksi yang lebih mengena, “Hai keponakanku, istirahatkan pencatat amal-mu. Tidak ada obrolan malam kecuali untuk musafir, orang yang tahajud dan pengantin.”
Ya, biarlah malaikat pencatat amal kita istirahat. Bukan karena mereka lelah mencatat. Tetapi kita yang akan kelelahan untuk menanggung catatan itu. Bicara tidak ada maknanya hanya membuang waktu dan berpeluangnya lidah terpeleset, sehingga catatan dosa kita bertambah lagi.
Nabi adalah orang yang hampir tidak pernah lewat malamnya begitu saja. Beliau tentu tahu bagaimana caranya agar selalu mudah bangun malam hari untuk beribadah. Ajaran Nabi seperti tidur miring ke kanan, berwudhu dan berdo’a sebelum tidur bukan saja memiliki kelebihan secara medis, tetapi juga memudahkan kita untuk bangun malam. Untuk menabung pahala dan hidup di dunia ini lebih bahagia dan bermakna.
4. Abu Utsman, “Abu Hurairah bergiliran dengan istri dan pembantu untuk saling membangunkan.”
Mencari lingkungan yang mendukung. Lingkungan bisa sangat menentukan. Bisa jadi kita yang dulu berada di lingkungan yang lebih agamis, sering melakukan sholat malam, puasa sunah, tilawah dan ibadah lainnya yang kala itu terasa begitu nikmat. Dan kini semuanya telah pudar atau hilang sama sekali, setelah kita berpindah tempat, Tinggal di tempat yang tidak lagi seindah dulu.
Inilah cerita lengkap Abu Utsman tentang keluarga Abu Hurairah, "Aku bertamu di rumah Abu Hurairah selama tujuh hari. Dan aku lihat dia, istri dan pembantunya membagi malam menjadi tiga. Setelah yang satu selesai sholat membangunkan yang kedua dan seterusnya."
Itu juga yang dilakukan oleh istri penguasa ketika itu, Nuruddin Zanki. Selain dia, istrinya Khotun binti Atabik juga seseorang yang rajin sholat malam. Pasangan sholeh yang layak membawa negeri menjadi adil dan damai.
Pagi itu Khotun tampak murung. Nuruddin menanyakan sebabnya. Ternyata masalahnya adalah karena dia tidak bangun semalarn dan kehilangan pernik-pernik indahnya malam bersama Tuhannya. Setelah itu, Nuruddin mengangkat seorang pegawai istana khusus untuk memukul genderang buat membangunkan sholat malam. Nuruddin memberi pegawai tersebut gaji yang tinggi.
Hari ini, jaman sudah semakin canggih. Segala sarana yang kita gunakan untuk bangun malam sangatlah banyak dan tersedia mudah. Kita tidak perlu lagi membayar orang khusus dengan gaji tinggi untuk membangunkan kita di malam hari, seperti yang dilakukan sang sultan. Kita hanya butuh tekad kuat dan memanfaatkan peralatan canggih untuk membangunkan kita. Sekali lagi, kita hanya butuh tekad.
Namun bisa jadi kita masih merasa keberatan untuk bangun, walau jam telah berdering sekian kali. Maka, mencari lingkungan yang sholeh adalah penting. Lingkungan itu bisa teman, istri, suami atau keluarga lainnya, yang gemar melakukan sholat malam. Dengan hidup bersama mereka, berada di lingkungan yang baik dan mendukung, kita akan terkena imbas membiasakan diri sholat malam. Kita akan menyadari nikmatnya hari-hari sunyi di malam hari jika diisi taqarrub pada Allah.
5. Hasan Al Basri, “Kamu diikat oleh dosamu.”
Mata kita dikatupkan oleh dosa-dosa kita, begitu kira-kira pesan yang ingin diajarkan oleh Imam Hasan kepada kita. Nasehat beliau ini untuk seseorang yang datang padanya dan mengeluhkan tentang dirinya yang sulit bangun malam. "Wahai Hasan Basri, aku mencintai sholat malam dan aku selalu tidur dalam keadaan suci, tetapi mengapa aku tidak bisa juga bangun?" Singkat Imam Hasan menjawab, "Kamu diikat oleh dosamu.”
Dosa di siang hari, membuat kita susah untuk membuka mata, inilah pengalaman pribadi Sufyan Tsauri, “Aku pernah tidak bisa sholat malam selama lima bulan karena satu dosa yang aku lakukan." Temannya bertanya, "Dosa apa itu?” “Aku melihat seseorang menangis dan dalam hati aku berkata, ‘Orang itu menangis hanya untuk dipuji saja,’” jelas Sufyan.
Subhanallah, mereka yang sedikit dosanya, tahu dari mana datangnya musibah itu. Tetapi kita yang masih bergumul dengan dosa tidak tahu mengapa sholat malam terasa begitu berat.
Allah ridho kepada orang sang tidak bermaksiat pada-Nya di siang hari. Sehingga dia diberikan kesempatan untuk menyambut kehadiran-Nya di langit dunia di malam hari. Saat yang setiap detiknya tidak mungkin dihargai sekedar dengan dunia dan seisinya. Sangat berharga.
Inilah yang ingin dikatakan oleh Ibrahim bin Adham kepada seseorang yang meminta resep agar bisa sholat malam, “Jangan, bermaksiat kepada-Nya di siang hari, niscava Dia akan membangunkanmu di malam hari. Karena kehadiranmu di hadapan-Nya adalah merupakan kemuliaan. Dan orang yang bermaksiat tidak layak mendapatkan kemuliaan itu.”
Ya, itulah bagian dari resep orang-orang besar dalam sejarah manusia dan di sisi Allah. Kekuatan mereka di siang hari untuk mengukir prestasi benar-benar tergantung seberapa hidup malam-malam mereka dengan ibadah.
Semoga pengalaman mereka menjadi bekal kekuatan kita untuk merenda malam yang masih koyak-koyak.
~ Sang Pengagum Pena ~
Antara Qalbun dan 'Ain
”Mata adalah panglima hati. Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila dibiarkan mata memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya. Meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang". Demikian potongan nasihat Imam Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya Ulumuddin.
Beliau memberi wasiat agar tidak menganggap ringan masalah pandangan. Ia juga mengutip bunyi sebuah sya’ir, "Semua peristiwa besar awalnya adalah mata. Lihatlah api besar yang awalnya berasal dari percikan api."
Hampir sama dengan bunyi sya’ir tersebut, sebagian salafushalih mengatakan, "Banyak makanan haram yang bisa menghalangi orang melakukan shalat tahajjud di malam hari. Banyak juga pandangan kepada yang haram sampai menghalanginya dari membaca Kitabullah."
Saudaraku,
Semoga Allah memberi naungan barakahNya kepada kita semua. Fitnah dan ujian tak pernah berhenti. Sangat mungkin, kita kerap mendengar bahkan mengkaji masalah mata. Tapi belum tentu kita termasuk dalam kelompok orang yang bisa memelihara pandangan mata. Padahal, seperti diungkapkan oleh Imam Ghazali tadi, orang yang keliru menggunakan pandangan, berarti ia terancam bahaya besar karena mata adalah pintu paling luas yang bisa memberi banyak pengaruh pada hati.
Menurut Imam Ibnul Qayyim, mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan pengikut. Yang pertama, mata, memiliki kenikmatan pandangan. Sedang yang kedua, hati, memiliki kenikmatan pencapaian. "Dalam dunia nafsu keduanya adalah sekutu yang mesra. Jika terpuruk dalam kesulitan, maka masing-masing akan saling mecela dan mencerai," jelas Ibnul Qayyim. Pemenuhan hasrat pencapaian seringkali menjadi dasar motivasi yang menggebu-gebu untuk mendapatkan atau menikahi seseorang. Padahal siap nikah dan siap jadi suami/istri adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama, nuansa nafsu lebih dominan; sedangkan yang kedua, sarat dengan nuansa amanah, tanggung-jawab dan kematangan.
Saudaraku,
Simak juga dialog imajiner yang beliau tulis dalam kitab Raudhatul Muhibbin: "Kata hati kepada mata, "kaulah yang telah menyeretku pada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman dan kebun yang tak sehat. Kau salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya". Kau salahi sabda Rasulullah saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman padanya, yang akan didapati kelezatan dalam hatinya." (HR.Ahmad)
Tapi mata berkata kepada hati, "Kau zalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan mengikuti jalan yang engkau tunjukkan. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula. Dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati " (HR. Bukhari dan Muslim). Hati adalah raja. Dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik maka baik pula pasukannya. Jika rajanya buruk, buruk pula pasukannya. Wahai hati, jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah kebaikanmu . Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta pada Allah, tidak suka dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, asma dan sifat-sifatNya. Allah berfirman, "Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada". (QS.AI-Hajj:46)
Saudaraku,
Banyak sekali kenikmatan yang menjadi buah memelihara mata. Coba perhatikan tingkat-tingkat manfaat yang diuraikan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Jawabul Kafi Liman Saala Anid Dawa’i Syafi. "Memelihara pandangan mata, menjamin kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat. Memelihara pandangan, memberi nuansa kedekatan seorang hamba kepada Allah, menahan pandangan juga bisa menguatkan hati dan membuat seseorang lebih merasa bahagia, menahan pandangan juga akan menghalangi pintu masuk syaithan ke dalam hati.
Mengosongkan hati untuk berpikir pada sesuatu yang bermanfaat, Allah akan meliputinya dengan cahaya. Itu sebabnya, setelah firmanNya tentang perintah untuk mengendalikan pandangan mata dari yang haram, Allah segera menyambungnya dengan ayat tentang "nur", cahaya. (Al-Jawabul Kafi, 215-217)
Saudaraku,
Perilaku mata dan hati adalah sikap tersembunyi yang sulit diketahui oleh orang lain, kedipan mata apalagi kecenderungan hati, merupakan rahasia diri yang tak diketahui oleh siapapun, kecuali Allah swt, "Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati ". (QS. Al-mukmin:l9). Itu artinya, memelihara pandangan mata yang akan menuntun suasana hati, sangat tergantung dengan tingkat keimanan dan kesadaran penuh akan ilmuLlah (pengetahuan Allah) . Pemeliharaan mata dan hati, bisa identik dengan tingkat keimanan seseorang.
Saudaraku,
Dalam sebuah hadits dikisahkan, pada hari kiamat ada sekelompok orang yang membawa hasanat (kebaikan) yang sangat banyak . Bahkan Rasul menyebutnya, kebaikan itu bak sebuah gunung. Tapi ternyata, Allah swt tak memandang apa-apa terhadap prestasi kebaikan itu. Allah menjadikan kebaikan itu tak berbobot, seperti debu yang berterbangan. Tak ada artinya. Rasul mengatakan, bahwa kondisi seperi itu adalah karena mereka adalah kelompok manusia yang melakukan kebaikan ketika berada bersama manusia yang lain. Tapi tatkala dalam keadaan sendiri dan tak ada manusia lain yang melihatnya, ia melanggar larangan-larangan Allah (HR. Ibnu Majah)
Kesendirian, kesepian, kala tak ada orang yang melihat perbuatan salah, adalah ujian yang akan membuktikan kualitas iman. Di sinilah peran mengendalikan mata dan kecondongan hati termasuk dalam situasi kesendirian, karena ia menjadi bagian dari suasana yang tak diketahui oleh orang lain, "Hendaklah engaku menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya yakinilah bahwa Ia melihatmu". Begitu pesan Rasulullah saw. Wallahu’alam.
~ Sang Pengagum Pena ~
