Sabtu, 05 Juni 2010

Kemunkaran Ilmu

Salah satu kewajiban penting yang diamanahkan oleh Rasulullah saw kepada kaum Muslim adalah “al amru bil ma’ruf dan al-nahyu ‘anil munkar” (memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran). Secara umum, kaum Muslim wajib mendukung tegaknya kebaikan dan melawan kemunkaran. Tugas ini wajib dilakukan oleh seluruh kaum Muslimin, sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sebab, Rasulullah saw sudah mengingatkan, agar siapa pun jika melihat kemunkaran, maka ia harus mengubah dengan tangan, dengan lisan, atau dengan hati, sesuai kapasitasnya. Namun, secara kolektif, umat juga diwajibkan melakukan aktivitas ini secara jama’iy. Sebab, ada hal-hal yang tidak dapat dilaksanakan secara individual (fardiy).

Dalam kitabnya, Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali menekankan, bahwa ativitas “amal ma’ruf dan nahi munkar” adalah kutub terbesar dalam urusan agama. Ia adalah sesuatu yang penting, dan karena misi itulah, maka Allah mengutus para nabi. Jika aktivitas ‘amar ma’ruf nahi munkar’ hilang, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan akan merajelela, satu negeri akan binasa. Begitu juga umat secara keseluruhan.

Allah SWT berfirman, yang artinya: “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa Putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS al-Maidah: 78-79).

Jadi, karena tidak melarang tindakan munkar diantara mereka, maka kaum Bani Israel itu dikutuk oleh Allah. Rasulullah saw juga memperingatkan: “Tidaklah dari satu kaum berbuat maksiat, dan diantara mereka ada orang yang mampu untuk melawannya, tetapi dia tidak berbuat itu, melainkan hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan azab dari sisi-Nya.” (HR Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah).

Juga, sabda beliau saw: “Hendaklah kamu menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar, atau Allah akan memberikan kekuasaan atasmu kepada orang-orang jahat diantara kamu, dan kemudian orang-orang yang baik diantara kamu berdoa, lalu tidak dikabulkan doa mereka itu.(HR al-Bazzar dan at-Thabrani).
Sebab itu, langkah pertama setelah menyadari begitu pentingnya melakukan perlawanan terhadap kemunkaran, adalah memahami tentang ‘kemunkaran’ itu sendiri. Yang mana yang dimaksud dengan munkar. Kemudian, setelah paham, sesuai dengan ‘fiqhul awlawiyyat’ (fiqh prioritas), dilakukan pemetaan dan skala prioritas, kemunkaran mana yang wajib diperangi terlebih dulu. Saat ini begitu banyak kemunkaran bertebaran di muka bumi. Melalui media televisi, sebagian kemunkaran itu menyelusup masuk ke pojok-pojok kamar kita, tanpa permisi.

Tentu saja, kemunkaran terbesar dalam pandangan Islam, adalah kemunkaran di bidang aqidah Islamiyah. Yakni, kemunkaran yang mengubah dasar-dasar Islam. Inilah kemunkaran yang berawal dari kerusakan ilmu-ilmu Islam, yang menyangkut asas-asas pokok dalam Islam. Kemunkaran jenis ini jauh lebih dahsyat dari kemunkaran di bidang amal. Dosa orang yang mengingkari kewajiban salat lima waktu, lebih besar daripada dosa orang yang meninggalkan salat karena malas, tetapi masih meyakini kewajiban salat. Dosa orang yang menjadi pelacur masih lebih ringan dibandingkan dengan orang yang mengkampanyekan paham, bahwa menjadi pelacur adalah tindakan mulia. Karena itu, adalah merupakan tindakan kemunkaran yang sangat serius, ketika seorang mahasiswi sebuah kampus Islam di Yogyakarta menerbitkan buku berjudul “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur”.

Buku itu memberikan legitimasi terhadap pelacuran dan free sex. Buku seperti ini membawa misi pengaburan antara yang haq dan yang bathil. Ironinya, ketika dibedah di kampusnya, banyak sekali mahasiswa yang mendukungnya. Buku-buku, tulisan-tulisan, atau ucapan-ucapan yang keliru yang disebarkan melalui media massa juga merupakan kemunkaran yang besar, lebih dari kemunkaran amal. Pornografi adalah munkar. Tetapi, pemikiran yang menyatakan, bahwa pornografi adalah tindakan mulia, merupakan kemunkaran yang lebih besar. Pelacur jelas berdosa dengan tindakan zinanya. Tetapi, orang-orang yang memberikan legitimasi terhadap pelacuran, jelas melakukan kemunkaran yang lebih besar daripada pelacur itu sendiri. Seorang pengasong ide liberal di Indonesia mengecam tokoh-tokoh Islam yang menilai aksi ngebor seorang penyanyi dangdut dengan menggunakan standar nilai-nilai Islam. Ia menulis dalam sebuah buku: “Agama tidak bisa “seenak udelnya” sendiri masuk ke dalam bidang-bidang itu (kesenian dan kebebasan berekspresi) dan memaksakan sendiri standarnya kepada masyarakat…Agama hendaknya tahu batas-batasnya.”

Saat ini, bukan rahasia lagi, banyak kaum Muslimin yang mengabaikan ajaran-ajaran al-Quran. Tetapi, selama ini, mereka tetap yakin bahwa al-Quran adalah Kitab Suci. Al-Quran adalah firman Allah SWT. Tindakan mengabaikan ajaran al-Quran adalah munkar. Tetapi, penerbitan buku-buku dan artikel yang meragukan kesucian dan keotentikan al-Quran adalah kemunkaran yang lebih besar.

“Kemunkaran ilmu” merupakan kemunkaran yang terbesar dalam perspektif Islam. Sebab, jika ilmu salah, maka akan muncul ulama yang salah. Jika ulama salah, maka umara (penguasa) dan umat pun akan salah. Kemunkaran ilmu adalah sumber kesalahan asasi dalam Islam. Ilmu yang salah mengacaukan batas antara al-haq dan al-bathil. Orang yang bathil tidak menemukan jalan untuk bertaubat, sebab dia merasa apa yang dilakukannya adalah tindakan yang baik. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Katakanlah, akankah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sesat amal perbuatannya di dunia ini, tetapi mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS al-Kahfi:103-104).

Di dalam Majalah Islamia edisi ke-5, 2005, yang membahas tentang “Epistemologi Islam”, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, menguraikan bahaya kekeliruan dan kejahilan dalam ilmu. Menurut konsepsi Islam tentang kejahilan seperti diuraikan Ibn Manzur dalam karyanya, Lisan Al-’Arab, bahwa kejahilan itu terdiri daripada dua jenis. Pertama, kejahilan yang ringan, iaitu kurangnya ilmu tentang apa yang seharusnya diketahui; dan kedua, kejahilan yang berat, yaitu keyakinan salah yang bertentangan dengan fakta ataupun realita, meyakini sesuatu yang berbeda dengan sesuatu itu sendiri, ataupun melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dengan yang seharusnya. Jelaslah bahwa kejahilan dalam kedua-dua konteks di atas adalah penyebab utama terjadinya kesalahan, kekurangan, atau kejahatan manusia. Kejahilan yang ringan dapat dengan mudah diobati dengan pengajaran biasa ataupun pendidikan, tetapi kejahilan yang berat, sebagaimana, merupakan sesuatu yang sangat berbahaya dalam pembangunan keilmuan, keagamaan, dan akhlak individu dan masyarakat, sebab kejahilan jenis ini bersumber dari diri rohani yang tidak sempurna, yang dinyatakan dengan sikap penolakan terhadap kebenaran.

Demikian kutipan ringkas pendapat Prof. Wan Mohd Nor. Kita bisa memahami, kejahilan jenis kedua justru terjadi di kalangan para cendekiawan/ulama. Sebagian mereka sudah menjuluki dirinya ilmuwan (bergelar doktor, profesor, cendekiawan, Kyai Haji dan sebagainya). Tetapi, ilmu yang mereka punyai dan mereka sebarkan ke tengah masyarakat, adalah ilmu yang keliru. Bisa saja, mereka paham akan hal itu, tetapi karena tidak tahan dengan godaan dunia, mereka menjual kebenaran dengan kesesatan. Bisa juga mereka memang tidak paham. Bisa jadi ia seorang profesor bidang sejarah atau politik, tetapi karena posisinya sebagai tokoh Islam, maka ia merasa tahu tentang Islam dan menulis atau berbicara semaunya tentang Islam, meskipun dia sebenarnya tidak memahami ’ulumuddin’ dengan baik.

Kejahilan di kalangan cendekiawan ini tidak mudah diobati. Di zaman Nabi Muhammad saw, tantangan keras terhadap misi kenabian justru datang dari para bangsawan dan cerdik pandai. Mereka pandai berhujjah dan memutarbalikkan fakta kebenaran, sehingga mampu mempengaruhi masyarakat luas. Ketika hujjah mereka sudah dipatahkan, mereka pun enggan mengikuti kebenaran, karena berbagai kepentingan duniawi. Tidak ada niat sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran, karena memang niat awalnya untuk mengacau kebenaran.

Kemunkaran ilmu membutuhkan pemahaman yang agak rumit. Para ulama kita dulu – disamping menguasai dengan baik ajaran-ajaran Islam – juga menguasai dengan baik-baik paham-paham atau ilmu-ilmu yang munkar. Mereka bukan saja menulis tentang Islam, tetapi juga menulis apa yang membahayakan atau menyerang Islam. Karena memang antara haq dan bathil akan selalu terjadi konfrontasi. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah, misalnya, disamping menulis ratusan kitab di bidang aqidah, syariah, dan akhlaq, beliau juga menulis tentang hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Beliau menulis kitab yang sangat tebal berjudul ”Al-Jawab al-Shahih liman Baddala Din al-Masih” (Jawaban yang Benar terhadap Orang Yang Mengubah Agama al-Masih). Pemahaman beliau tentang masalah Kristen sangat mendalam. Di masa lalu, para ulama kita mempelajari dengan sangat mendalam paham-paham yang berkembang ketika itu. Imam Syahrastani menulis Kitab yang sangat fenomenal hingga saat ini, yaitu ”al-Milal wal-Nihal”, yang diakui sebagai Kitab perbandingan agama pertama.

Maka, di tengah-tengah era globalisasi dan hegemoni peradaban Barat saat ini, seyogyanya para ulama dan cendekiawan Muslim juga memahami paham-paham yang berasal dari Barat yang kini menghegemoni pemikiran umat manusia, termasuk dalam bidang studi Islam. Paham dan pemikiran Pluralisme Agama, relativisme, sofisme, hermeneutika, sekularisme, liberalisme, dan sebagainya, kini telah diajarkan dan disebarkan oleh para tokoh dan lembaga-lembaga pendidikan Islam sendiri. Sementara itu, begitu banyak kalangan cendekiawan Muslim atau ulamanya yang tidak dapat melakukan respon yang tepat, karena tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hingga saat ini, misalnya, belum ada satu pun organisasi Islam di Indonesia yang secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap tentang paham Pluralisme Agama. Padahal, Vatikan saja, pada tahun 2000, sudah mengeluarkan dekrit ’Dominus Jesus’ yang secara menolak paham Pluralisme Agama itu. Sebab, paham ini sejatinya memang menghancurkan agama-agama yang ada.

Akibat ketidaktahuan terhadap hakikat ’kemunkaran’ yang terjadi, bisa muncul respon-respon yang tidak adil. Sebagian kalangan muslim melihat masalah politik sebagai problema utama umat, sehingga berjuang mati-matian untuk menggolkan tujuannya. Milyaran rupiah dana dikurcurkan untuk perjuangan ini. Seorang calon walikota di Jawa Barat dari partai Islam, memerlukan dana sekitar Rp 4 milyar untuk biaya kampanyenya.

Apakah kaum Muslim mau mengeluarkan dana sebesar itu untuk mencetak ulama yang unggul, membuat TV Islam, radio Islam, atau membangun institusi penelitian Islam yang berkualitas? Kaum Muslim marah ketika mendengar berita al-Quran dilelecehkan di Guantanamo, tetapi tenang-tenang saja, ketika di Indonesia sendiri muncul buku-buku atau artikel yang menghujat al-Quran. Banyak cendekiawan Muslim yang tidak merasa perlu untuk mengkaji masalah ini dengan serius, dengan mengumpulkan semua literatur yang berkaitan dengan studi al-Quran. Malah, bukan tidak sedikit, organisasi Islam yang membiarkan tokoh-tokohnya menyebarkan pemikiran yang keliru tentang Islam.

Banyak organisasi Islam yang sibuk luar biasa menjelang acara pemilihan presiden, tetapi bungkam saja ketika berbagai kemunkaran besar berseliweran. Aktivitas dan perilaku adalah cermian dari cara berpikir. Jika cara berpikir keliru, maka tindakan yang muncul juga akan keliru. Karena itu, sudah saatnya, kita semua, tokoh-tokoh umat, organisasi Islam, lembaga pendidikan Islam, merumuskan kembali tantangan dan strategi dakwah di ”zaman baru” ini. Zaman yang sangat berbeda dengan era sebelumnya. Zaman dimana orang-orang yang diamanahi menjaga Islam (ulama) justru banyak diantara mereka yang menyerang Islam. Zaman dimana dari lembaga-lembaga perguruan tinggi Islam, justru muncul orang-orang yang bekerja untuk merobohkan Islam. Zaman dimana orang-orang yang belajar dan mengajar ushuluddin (dasar-dasar agama), banyak diantaranya yang justru mengajarkan ilmu-ilmu yang meragukan kebenaran Islam. Zaman dimana begitu banyak yang belajar syariah tetapi justru akhirnya anti-pati terhadap syariah.

Zaman seperti ini benar-benar zaman baru. Para tokoh dan organisasi-organisasi Islam seharusnya sadar akan hal ini. Dan kemudian berusaha sekuat tenaga mencegah agar ’penyakit’ ini tidak semakin meluas dan memakan korban. Tanpa pemahaman yang benar dan memadai tentang ”hakikat al-munkar” dewasa ini, maka akan sulit umat Islam menerapkan konsep keadilan dalam menjalankan ’amar ma’ruf nahi munkar’. (Wallahu a’lam. (***)

Jumat, 04 Juni 2010

Perkembangan setiap orang dalam gaya, logika dan pola pikir berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Ketiga hal tersebut sangat kuat dipengaruhi oleh kemampuan dan kesadaran setiap individu untuk mengimprovisasi dan menggali potensi dirinya, pun oleh kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya.

Seperti misal adalah tontonan yang dilihat di televisi; sebagian orang mengikuti acara yang dapat menambah wawasannya dan mengembangkan kecerdasannya. Ia mendapat manfaat dari pengalaman orang lain melalui acara-acara dialog, talk show, operah, dan diskusi atau yang sejenisnya. Dari situ ia akan mendapatkan wawasan yang mengagumkan dalam berdiskusi, gaya berkomunikasi, pemahaman, kemampuan berdebat dan teknik meyakinkan lawan bicara (nego). Lain halnya dengan mereka yang nyaris tidak pernah absen untuk mengikuti sinetron-sinetron yang berisi kisah cinta yang gagal, drama yang emosional, fil horror yang menyeramkan, atau film-film fiksi murahan yang tidak realistis.

Perhatikan..!!

Mari kita lihat kondisi kelompok pertama dengan kelompok kedua 5 atau 10 tahun yang akan datang. Siapa yang lebih berkembang keahliannya dan kemampuannya dalam menguasai masalah, wawasan intelektualnya, kemampuan komunikasinya dan caranya menyikapi setiap kejadian? Pasti kelompok pertama. Bagaimana dampaknya…? Berikut contoh kisahnya:

Diilustrasikan bahwa si A adalah orang yang sangat bersemangat, tetapi ia tidak memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dengan baik. Suatu hari ia keluar dari rumahnya menuju masjid untuk mengikuti sholat Dzhuhur. Ia didorong oleh ketekunannya dalam menunaikan sholat dan rasa hormatnya kepada agama. Ia selalu mempercepat langkah-langkahnya karena khawatir sholat sudah dimulai sebelum ia tiba di masjid. Di tengah jalan ia melihat pohon kurma yang di atasnya ada seorang laki-laki yang berpakaian kerja dan sibuk mengurus kurma. Si A terheran-heran. Siapa yang tidak memperhatikan sholat ini. Seolah-oleh orang itu tidak pernah mendengar adzan.

Lalu dengan nada marah si A berkata, “Hey, turunlah untuk sholat.”

Dengan nada dingin laki-laki itu menjawab, “Baik-baik”

Si A, “Cepat. Ayo sholat, keledai..!!”

Laki-laki itu memekik, “Aku keledai !??”

Lantas ia mencabut pelepah kurma dan turun untuk mengoyak kepala si A. Si A segera menutupi wajahnya dengan ujung bajunya agar tidak dikenali oleh laki-laki tersebut. Dan ia pun bergegas ke masjid.

Laki-laki itu turun dari pohon kurma sambil marah-marah. Lalu ia pulang ke rumahnya utuk sholat dan istirahat sejenak. Kemudian ia kembali ke pohon kurmanya untuk melanjutkan pekerjaannya.

Waktu Ashar tiba, dan si A pun berangkat ke masjid. Ia melewati pohon kurma itu dan ternyata laki-laki itu ada di atasnya. Lalu si A mengubah gaya interaksinya.

Si A : “Assalamu’alaikum. Apa kabar?”

Laki-laki : “Alhamdulillah, baik”

Si A : “Syukurlah. Bagaimana buahnya tahun ini?”

Laki-laki : “Alhamdulillah”

Si A : “Mudah-mudahan Alloh berkenan member anda pertolongan dan rezeki yang banyak. Dan mudah-mudahan adan mendapatkan pahala dari usaha dan kerja keras anda untuk anak-anak anda.”

Laki-laki itu gembira sekali mendengar do’a tersebut. Ia pun mengamini doa itu dan berterima kasih.

Lalu si A berkata, “Tapi tampaknya anda terlalu sibuk sehingga tidak memperhatikan adzan Ashar. Adzan Ashar sudah dikumandangkan, dan sebentar lagi iqomat. Sebaiknya anda turun untuk beristirahat dan menunaikan sholat. Setelah sholat, lanjutkan pekerjaan anda. Semoga Alloh berkenan menjaga kesehatan anda.”

Laki-laki itu menjawab, “Insya Alloh..Insya Alloh..”

Dan ia pun uturn secara perlahan. Kemudian ia menghampiri si A dan menjabat tangannya dengan hangat. Dan ia pun berkata, “Terima kasih atas akhlak yang mengagumkan ini. Sedangkan orang yang bertemu denganku waktu Dzhuhur tadi, seandainya aku bisa melihatny, niscaya aku akan memberinya pelajaran.”

“KEAHLIAN KITA DALAM BERGAUL DENGAN ORANG LAIN AKAN MENJADI DASAR BAGI ORANG LAIN UNTUK BERGAUL DENGAN KITA”

Madiun, 4 Juni 2010

Disadur dan digubah dari:

Nikmatilah Hidup Anda karya Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Arifi. 2008. Penerjemah: Najib Junaidi, Lc. Pustaka Yasir, Surabaya. Judul asli: “Istamti’ bi hayatika;”.

8 Mutiara Hatim

“Apakah aku harus menebar mutiara di tempat penggembalaan binatang, dan menata apa yang sudah ditebar bagi penggembala? Siapa yang menyampaikan ilmu kepada orang-orang yang bodoh, maka akan menyia-nyiakan ilmu itu, dan siapa yang tidak menyampaikan ilmu kepada orang yang layak menerimanya maka dia telah berbuat dzhalim.” (Imam Asy-Syafi’ie)

Ilmu adalah mata pencaharian paling utama, gelar paling mulia, simpanan paling berharga, dan buah termanis yang dapat dipetik, tidak ada seorang ‘pekerja’pun yang mendapatkan ‘gaji’ yang lebih berharga dari ilmu yang dapat menuntunnya ke jalan yang benar serta menyelamatkannya dari kesesatan. Barang siapa yang dimudahkan menuntut ilmu niscaya Allah Ta’ala akan memudahkan jalannya menuju surga.

Para salafuhs shalih tiada pernah menyia-nyiakan waktunya melainkan hanya untuk ilmu. Demikian halnya dengan kisah sarat hikmah dari Hatim rahimahullah. Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Balkhy rahimahullah, bahwa dia pernah bertanya kepada Hatim: “Sudah berapa lama engkau menyertai aku. Lalu apa saja pelajaran yang bisa engkau serap?”

Hatim menjawab: “Ada delapan macam:

1. Aku suka mengamati manusia. Ternyata setiap orang ada yang dicintainya. Namun jika dia sudah dibawa kekuburannya, toh dia harus berpisah dengan sesuatu yang dicintainya. Maka kujadikan yang kucintai adalah kebaikanku, agar kebaikanku itu tetap menyertaiku di kuburan.

Jiwa manusia akan menjadi baik jika mereka senantiasa ingat akan tempat kembalinya. Jika seorang hamba ingat bahwa ia akan berbantalkan tanah sendirian dalam kuburnya tanpa ada teman yang menghiburnya, tanpa disertai orang yang dicintainya; ingat bahwa tidak ada yang berguna selain amal shalihnya, ingat bahwa seluruh manusia tidak berdaya meringankan sedikitpun siksa kubur darinya, ingat bahwa seluruh urusannya berada di tangan Allah Ta’ala, ketika itulah ia yakin bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali dengan mengikhlaskan seluruh amalnya hanya kepada Allah semata, Dzat Yang Maha Berdiri Sendiri.

Kebaikan adalah sesuatu yang sangat berguna bagi setiap jiwa kelak di akhirat. Semua jiwa akan berpisah dengan apa yang menyertainya tatkala di dunia kecuali 3 hal, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa’ala alihi wasallam,

“Jika seseorang mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akannya.” (HR.Muslim).

Salah satu contoh kebaikan adalah amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan untuk melakukan kebaikan dan melarang dari kemungkaran). Ini merupakan bentuk peningkatan derajat seseorang dan perbuatan baik kepada orang lain. Eksistensinya akan menjamin kesejahteraan umat, melanggengkan setiap kenikmatan, menyebarkan rasa aman, menjamin terijabahnya do’a dan menolak segala makar dan tipu daya musuh. Melalui hal ini segala budi pekerti dan sifat mulia tumbuh berkembang di masyarakat, diiringi dengan surutnya setiap dosa dan kemungkaran.

2. Kurenungi firman Allah subhanahu wa ta’ala, “… dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu.” (QS. An-Nazi’at: 40). Maka sebisa mungkin aku mengenyahkan hawa nafsu, hingga jiwaku menjadi tenang karena taat kepada Allah Azza wa Jalla.

Hawa nafsu merupakan faktor terbesar yang menghalangi hati untuk sampai kepada Allah Ta’ala, sehingga dalam hal ini manusia dikelompokkan dalam dua kriteria, yakni pertama, manusia yang dikalahkan, dikuasai dan dihancurkan oleh hawa nafsunya. Ia benar-benar tunduk di bawah perintahnya. Kedua, manusia yang berhasil memenangkan pertarungan melawannya. Ia mampu mengekangnya, menundukkannya dan nafsu pun tunduk di bawah perintahnya.

Amirul mukminin Ali Bin Abi Thalib berkata: “Medanmu yang pertama adalah nafsumu. Jika kamu menang atasnya maka kamu atas yang selainnya lebih mampu. Dan jika kamu kalah di dalamnya, niscaya kamu atas yang selainnya lebih kalah lagi, maka cobalah mengalahkan nafsumu terlebih dahulu.”

Setiap mukmin mempunyai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah). Dia tenang di pintu ma’rifah terhadap asma’ dan sifat Allah Ta’ala dengan berdasarkan kabar dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dia tentram atas takdir Allah Ta’ala, menerima dan meridhainya, tidak benci dan berkeluh kesah, tidak pula terguncang keimanannya, tidak berputus asa atas sesuatu yang lepas darinya, pun tidak berbangga atas apa yang dimilikinya, sebab semua musibah dan kenikmatan telah ditakdirkan oleh-Nya jauh sebelum musibah dan kenikmatan itu sampai kepadanya, bahkan sebelum ia diciptakan.

3. Setelah kuamati aku tahu bahwa setiap orang mempunyai sesuatu yang bernilai dalam pandangannya, lalu dia pun akan menjaganya. Kemudian kuamati firman Allah Ta’ala: “Apa yang di sisi kalian akan lenyap dan apa yang di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96). Oleh karenanya, setiap kali aku mempunyai sesuatu yang berharga, maka aku segera menyerahkannya kepada Allah Ta’ala, agar dia kekal di sisi-Nya.

Setiap pakaian yang kita gunakan pasti akan hancur, makanan yang kita makan akan habis, kecuali harta yang kita nafkahkan di jalan Allah Ta’ala, itulah hakekat harta yang kita miliki. Shadaqah ibarat benteng antara seseorang dengan api neraka. Orang yang ikhlas dan menyembunyikan shadaqahnya akan mendapat naungan pada hari kiamat tat kala tiada naungan selain naungan Allah Azza wa Jalla. Kemudian ia dipanggil untuk memasuki Baabus Shadaqah –salah satu pintu surga untuk orang-orang yang gemar bershadaqah-.

Orang yang bakhil (kikir) seakan terkurung dari semua amal sosial, terhalang dari banyak kebaikan, dan tidak pernah merasa lega. Dadanya sempit dan nafasnya pun sesak, ia jarang terlihat senang dan selalu dirundung kesedihan, hajatnya hampir tidak pernah terlaksana dan hampir tiada seorangpun sudi menolongnya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9).

Seorang penyantun yang beriman akan dekat kepada Allah Ta’ala dan dicintai manusia dan kaum kerabatnya. Ia dekat dengan surga dan jauh dari api neraka. Namun orang yang kikir pasti dijauhi manusia. Ia pun dekat dengan neraka dan jauh dari surga.

4. Kulihat banyak orang yang kembali kepada harta, keturunan, kemuliaan dan kedudukannya. Padahal semua ini tidak ada artinya apa-apa. Lalu kuamati firman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13). Karena itu aku beramal dalam lingkup takwa, agar aku menjadi mulia di sisi-Nya.

Kebanyakan dari manusia sangat berbangga atas harta yang mereka miliki, keturunan yang ia punyai serta pangkat, jabatan dan kedudukan yang ia dapatkan. Mereka menilai segala sesuatu berdasarkan ketiga hal tersebut. Seseorang akan dinilai mulia jika di dalam dirinya terdapat salah satu atau ketiga hal tersebut. Mempunyai rumah mewah dan mobil mengkilat adalah suatu kepastian bagi mereka bahwa dia adalah orang yang paling mulia, meskipun ia senantiasa bergelimang dalam kemaksiatan. Lain halnya dengan orang yang miskin papa, walaupun ia orang yang ahli ilmu dan ibadah, mereka menilai bahwa ia adalah orang yang paling hina di dunia ini. Sungguh suatu yang sangat terbalik keadaannya.

Dunia adalah sesuatu yang sangat hina di hadapan Allah Ta’ala. Seandainya di dunia ada kemuliaan seberat sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberikan minum setetespun kepada orang kafir. Demikian halnya perumpamaan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ala alihi wasallam tentang dunia yang diibaratkan dengan bangkai kambing yang cacat, tidak berharga sama sekali.

Takwa adalah segala-galanya. Dengannya Allah akan mencintai dan meridhainya. Allah Ta’ala akan memberikan solusi dari setiap permasalahan yang menimpa manusia jika mereka bertakwa. Tiadalah kebaikan yang paling baik melainkan bertakwa kepada Rabb yang Maha Pencipta, Pengatur dan Maha Memiliki.

5. Kulihat manusia sering iri dan dengki. Lalu kuamati firman Allah Ta’ala: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Zukhruf: 32). Karena itu kutinggalkan sifat iri dan dengki.

Hasad merupakan salah satu penyakit hati. Ia adalah penyakit yang banyak menjangkiti mereka yang saling bersaing; baik karena kebencian salah seorang dari mereka atas yang lain, atau karena yang satu lebih unggul dari pesaingnya. Hasad termasuk salah satu celah pintu masuk syetan yang sangat berbahaya, selain itu ia juga merupakan salah satu sifat tercela orang Yahudi.

Hasad adalah suatu bentuk penentangan terhadap Allah Ta’ala, karena orang yang hasad tidak suka terhadap nikmat Allah yang Dia berikan kepada salah seorang hamba-Nya. Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala menyukai nikmat yang Dia berikan kepada hamba-Nya tadi, sedang si pendengki menginginkan hilangnya nikmat tersebut, maka ia telah menentang takdir Allah Azza wa Jalla, dan menentang apa yang Allah suka dan yang Allah benci.

Ibnul Qayyim mengatakan: “Di antara masalah yang paling berat dan sulit bagi hawa nafsu, yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang mendapat karunia besar dari Allah Ta’ala adalah memadamkan kedengkian si pendengki yang jahat dan selalu mengganggu, dengan berbuat baik kepadanya. Jadi semakin bertambah kedengkian, kejahatan, dan gangguannya, Anda justru harus bertambah baik kepadanya, bertambah prihatin dan semakin gigih menasehatinya.”

6. Kulihat manusia saling bermusuhan. Lalu kuamati firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya syetan itu musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian).” (QS. Fathir: 6). Karena itu aku tidak mau bermusuhan dengan mereka dan hanya syetan semata yang kujadikan musuh.

Tiadalah kewaspadaan yang sangat harus dimiliki kecuali terhadap syetan. Waspada terhadap segala gangguannya, waspada terhadap segala tipu dayanya dan waspada terhadap segala makarnya. Ia tidak akan pernah berhenti hingga manusia mengikuti jalan kesesatannya. Ia benar-benar musuh yang sangat pantas untuk dimusuhi, karena ia-lah sumber dari permusuhan.

Manusia saling bermusuhan tak lain hanyalah akibat sulutan api yang dikobarkan oleh syetan. Pun mereka akan berbaikan jika mereka mau menyiramkan air kepada api yang dipercikkan oleh syetan. Oleh karenanya, tiadalah gunanya jika harus bermusuhan dengan manusia jika semua itu disebabkan oleh syetan. Hendaknya pertemanan dan permusuhan di antara manusia tak lain haruslah karena Allah Ta’ala, bukan karena yang lain agar syetan tertutup untuk membalikkan keadaan. Yang seharusnya menjadi musuh dijadikan teman dan yang seharusnya menjadi teman dijadikan musuh.

7. Kulihat manusia menghinakan diri mereka untuk mencari rezeki. Lalu aku amati firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberinya rezeki.” (QS. Hud: 6). Karena itu aku menyibukkan diri dalam perkara yang memang menjadi kewajibanku dan kutinggalkan apa yang menjadi hakku di sisi-Nya.

Bekerja untuk mencari rezeki telah menjadi pemikiran kebanyakan manusia; dari si Kecil yang ‘menyanyikan’nya sampai si Tua yang masih terus mengejarnya. Demikian pula sebagian besar problematika kehidupan, topik pembicaraan dan berbagai kejadian, selalu saja berputar dalam persoalan yang bernama ‘mencari rezeki’. Namun demikian, seorang mukmin yang cerdas senantiasa mengembalikan urusan rezeki tersebut kepada ‘si empunya’ rezeki, yakni Allah subhanahu wa ta’ala.

Rezeki yang sudah ditetapkan menjadi bagian kita, maka ia akan pasti sampai kepada kita dalam kondisi selemah apapun; demikian sebaliknya. Oleh karenanya janganlah terlalu membuang-buang waktu dan susah-susah memikirkan rezeki yang sudah dijamin untuk kita. Jangan hanya karena mencari rezeki kita menghinakan diri dengan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, sehingga ada ungkapan nista yang muncul akhir-akhir ini: “Cari yang haram saja susah apalagi yang halal.”

Seorang mukmin yang tangguh adalah ia tetap berusaha mengais rezeki yang disediakan Allah Ta’ala tanpa mengabaikan tawakkal kepada-Nya. Janganlah terlalu ambisius dalam mewujudkan keinginan, karena yang demikian itu dapat mengeluarkan seseorang dari koridor tawakkal. Tatkala manusia tamak untuk merealisasikan keinginannya, maka manusia akan percaya 100% atas segala usahanya dan lupa berserah diri.

Ingatlah, kadangkala Allah Ta’ala menutup suatu jalan bagi manusia lantaran hikmah-Nya, namun Dia akan membuka jalan lain yang lebih bermanfaat bagi kita dikarenakan rahmat dan karunia-Nya. Maka barangsiapa yang ingin menjadi orang yang paling tangguh, hendaklah ia bertawakkal kepada Allah; dan barangsiapa yang ingin menjadi orang yang paling berkecukupan hendaklah ia lebih percaya terhadap apa yang di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri.

8. Kuamati mereka mengandalkan perdagangan, usaha dan kesehatan badan mereka. Tapi aku mengandalkan Allah dengan bertawakkal kepada-Nya.

Tawakkal merupakan sebuah tingkat kedudukan (manzilah) yang amat tinggi dari berbagai tingkat kedudukan yang ada dalam Islam. Allah pun menjadikan tawakkal sebagai salah satu sebab untuk mendapatkan kecintaan-Nya. Di dalam sikap tawakkal terkandung ridha Allah yang Maha Penyayang, serta benteng kokoh dari godaan syetan.

Barangsiapa berhasil mewujudkan sikap tawakkal maka ia akan masuk surga tanpa hisab. Adapun nilai-nilai duniawi maka kadangkala justru diperoleh oleh orang yang santai dan justru kadang-kadang luput dari kejaran orang yang sungguh-sungguh; kadangkala ia justru menjadi bagian mereka yang ‘gagal’ dan meleset dari perhitungan mereka yang ‘sukses’, tidak ada yang lebih mendekatkan seseorang dari yang ia tuju tersebut melainkan tawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Tawakkal membuahkan ketentraman dalam hati, menstabilkan jiwa, melumpuhkan tipu daya musuh, dan ia merupakan sebab utama yang menjadikan seseorang mampu menolak gangguan dan aniaya orang lain yang tidak tertahankan. Dengan tawakkal pula hati seseorang akan merasa tidak butuh terhadap apa yang ada pada orang lain.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tidaklah seseorang berharap dan bertawakkal kepada suatu makhlukpun, melainkan makhluk itu akan mengecewakan dan memupuskan harapannya; namun barangsiapa menyerahkan segenap urusannya kepada Allah, niscaya ia akan mendapat yang ia cita-citakan.” *)

Demikianlah delapan mutiara hikmah dari Hatim. Semoga kita mampu merenungkannya dan mengamalkan apa yang menjadi buah pelajaran yang dipetik oleh Hatim selama ia menuntut ilmu kepada Syaqiq Al-Balkhy rahimahullahu ta’ala ajma’in.

Wallahua’lamubishshawab.




DAFTAR PUSTAKA

1. Mukhtashar Minhajul Qashidin. Ibnu Qudamah. 2006. Pustaka Al-Kautsar
2. Riyadhush-Shalihin. Imam Nawawi.1999. Pustaka Amani
3. Bimbingan Islam Untuk Pribadi Dan Masyarakat. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu. 1998. Darul Haq
4. Tazkiyah An-Nafs. Dr. Ahmad Farid. 2002. Pustaka Arafah
5. Langkah Pasti Menuju Bahagia. Dr. Abdul Muhsin Bin Muhammad Al-Qasim. Daar An-Naba’

Rabu, 26 Mei 2010

SYUKUR

Kata "syukur" adalah kata yang berasal dari bahasa Arab. Kata
ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: (1)
rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah (menyatakan
lega, senang, dan sebagainya).

Pengertian kebahasaan ini tidak sepenuhnya sama dengan
pengertiannya menurut asal kata itu (etimologi) maupun menurut
penggunaan Al-Quran atau istilah keagamaan.

Dalam Al-Quran kata "syukur" dengan berbagai bentuknya
ditemukan sebanyak enam puluh empat kali. Ahmad Ibnu Faris
dalam bukunya Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar
dari kata tersebut yaitu,

a. Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh.
Hakikatnya adalah merasa ridha atau puas dengan sedikit
sekalipun, karena itu bahasa menggunakan kata ini
(syukur) untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan
sedikit rumput. Peribahasa juga memperkenalkan ungkapan
Asykar min barwaqah (Lebih bersyukur dari tumbuhan
barwaqah). Barwaqah adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh
subur, walau dengan awan mendung tanpa hujan.

b. Kepenuhan dan kelebatan. Pohon yang tumbuh subur
dilukiskan dengan kalimat syakarat asy-syajarat.

c. Sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit).

d. Pernikahan, atau alat kelamin.

Agaknya kedua makna terakhir ini dapat dikembalikan dasar
pengertiannya kepada kedua makna terdahulu. Makna ketiga
sejalan dengan makna pertama yang mengambarkan kepuasan dengan
yang sedikit sekalipun, sedang makna keempat dengan makna
kedua, karena dengan pernikahan (alat kelamin) dapat
melahirkan banyak anak.

Makna-makna dasar tersebut dapat juga diartikan sebagai
penyebab dan dampaknya, sehingga kata "syukur" mengisyaratkan
"Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit, maka ia akan
memperoleh banyak, lebat, dan subur."

Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar
bahasa Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran,
bahwa kata "syukur" mengandung arti "gambaran dalam benak
tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan." Kata ini
--tulis Ar-Raghib-- menurut sementara ulama berasal dari kata
"syakara" yang berarti "membuka", sehingga ia merupakan lawan
dari kata "kafara" (kufur) yang berarti menutup --(salah satu
artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.

Makna yang dikemukakan pakar di atas dapat diperkuat dengan
beberapa ayat Al-Quran yang memperhadapkan kata syukur dengan
kata kufur, antara lain dalam QS lbrahim (14): 7:

Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)
untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku
amat pedih.

Demikian juga dengan redaksi pengakuan Nabi Sulaiman yang
diabadikan Al-Quran:

Ini adalah sebagian anugerah Tuhan-Ku, untuk mengujiku
apakah aku bersyukur atau kufur (QS An-Naml [27]: 40).

Hakikat syukur adalah "menampakkan nikmat," dan hakikat
kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara
lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang
dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan
pemberinya dengan lidah:

Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau
menyebut-nyebut (QS Adh-Dhuha [93]: ll).

Nabi Muhammad Saw. pun bersabda,

Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam
penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).

Sementara ulama ketika menafsirkan firman Allah, "Bersyukurlah
kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku" (QS
Al-Baqarah [2]: 152), menjelaskan bahwa ayat ini mengandung
perintah untuk mengingat Tuhan tanpa melupakannya, patuh
kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan. Syukur orang
demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya, dan karena itu,
ketika setan menyatakan bahwa, "Demi kemuliaan-Mu, Aku akan
menyesatkan mereka manusia) semuanya" (QS Shad [38]: 82),
dilanjutkan dengan pernyataan pengecualian, yaitu, "kecuali
hamba-hamba-Mu yang mukhlash di antara mereka" (QS Shad [38]:
83). Dalam QS Al-A'raf (7): 17 Iblis menyatakan, "Dan Engkau
tidak akan menemukan kebanyakan dari mereka {manusia)
bersyukur." Kalimat "tidak akan menemukan" di sini serupa
maknanya dengan pengecualian di atas, sehingga itu berarti
bahwa orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang
mukhlish (tulus hatinya).

Dengan demikian syukur mencakup tiga sisi:

a. Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin atas
anugerah.

b. Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan
memuji pemberinya.

c. Syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah
yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Uraian Al-Quran tentang syukur mencakup sekian banyak aspek.
Berikut akan dikemukakan sebagian di antaranya.

SIAPA YANG HARUS DISYUKURI

Pada prinsipnya segala bentuk kesyukuran harus ditujukan
kepada Allah Swt. Al-Quran memerintahkan umat Islam untuk
bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya,

Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula
kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu
mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqarah [2]: 152).

Dalam QS Luqman (31): 12 dinyatakan:

Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada
Luqman hikmah, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan
barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka
sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya
sendiri."

Namun demikian, walaupun kesyukuran harus ditujukan kepada
Allah, dan ucapan syukur yang diajarkan adalah "alhamdulillah"
dalam arti "segala puji (hanya) tertuju kepada Allah," namun
ini bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka
yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Al-Quran secara
tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua
orang tua (yang menjadi perantara kehadiran kita di pentas
dunia ini.) Surat Luqman (31): 14 menjelaskan hal ini, yaitu
dengan firman-Nya:

Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu
bapakmu; hanya kepada-Kulah kembalimu.

Walaupun Al-Quran hanya menyebut kedua orangtua --selain
Allah-- yang harus disyukuri, namun ini bukan berarti bahwa
selain mereka tidak boleh disyukuri.

Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka dia tidak
mensyukuri Allah (Begitu bunyi suatu rtwayat yang
disandarkan kepada Rasul Saw).

MANFAAT SYUKUR BUKAN UNTUK TUHAN

Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur kembali
kepada orang yang bersyukur, sedang Allah Swt. sama sekali
tidak memperoleh bahkan tidak membutuhkan sedikit pun dari
syukur makhluk-Nya.

Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia
bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan
barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka
sesungguhnya Tuhanku Mahakaya (tidak membutuhkan
sesuatu) lagi Mahamulia (QS An-Naml [27]: 40)

Karena itu pula, manusia yang meneladani Tuhan dalam
sifat-sifat-Nya, dan mencapai peringkat terpuji, adalah yang
memberi tanpa menanti syukur (balasan dari yang diberi) atau
ucapan terima kasih.

Al-Quran melukiskan bagaimana satu keluarga (menurut riwayat
adalah Ali bin Abi Thalib dan istrinya Fathimah putri
Rasulullah Saw.) memberikan makanan yang mereka rencanakan
menjadi makanan berbuka puasa mereka, kepada tiga orang yang
membutuhkan dan ketika itu mereka menyatakan bahwa,

Sesungguhnya kami memberi makanan untukmu hanyalah
mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki
balasan darimu, dan tidak pula pujian (ucapan terima
kasih) (QS Al-Insan [76]: 9).

Walaupun manfaat syukur tidak sedikit pun tertuju kepada
Allah, namun karena kemurahan-Nya, Dia menyatakan diri-Nya
sebagai Syakirun 'Alim (QS Al-Baqarah [2]: 158), dan Syakiran
Alima (QS An-Nisa' [4]: 147), yang keduanya berarti, Maha
Bersyukur lagi Maha Mengetahui, dalam arti Allah akan
menganugerahkan tambahan nikmat berlipat ganda kepada makhluk
yang bersyukur. Syukur Allah ini antara lain dijelaskan oleh
firman-Nya dalam surat Ibrahim (14): 7 yang dikutip di atas.

BAGAIMANA CARA BERSYUKUR?

Di atas telah dijelaskan bahwa ada tiga sisi dari syukur,
yaitu dengan hati, lidah, dan anggota tubuh lainnya. Berikut
akan dirinci penjelasan tentang masing-masing sisi tersebut.

a. Syukur dengan hati

Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa
nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan
kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk
menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan
keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini juga
mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan,
dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahuya pujian
kepada-Nya. Qarun yang mengingkari keberhasilannya atas
bantuan Ilahi, dan menegaskan bahwa itu diperolehnya
semata-mata karena kemampuannya, dinilai oleh Al-Quran sebagai
kafir atau tidak mensyukuri nikmat-Nya (Baca kisahnya dalam
surat Al-Qashash (28): 76-82).

Seorang yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa mala petaka
pun, boleh jadi dapat memuji Tuhan, bukan atas malapetaka itu,
tetapi karena terbayang olehnya bahwa yang dialaminya pasti
lebih kecil dari kemungkinan lain yang dapat terjadi. Dari
sini syukur --seperti makna yang dikemukakan dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia yang dikutip di atas-- diartikan oleh orang
yang bersyukur dengan "untung" (merasa lega, karena yang
dialami lebih ringan dari yang dapat terjadi).

Dari kesadaran tentang makna-makna di atas, seseorang akan
tersungkur sujud untuk menyatakan perasaan syukurnya kepada
Allah.

Sujud syukur adalah perwujudan dari kesyukuran dengan hati,
yang dilakukan saat hati dan pikiran menyadari betapa besar
nikmat yang dianugerahkan Allah. Bahkan sujud syukur dapat
dilakukan saat melihat penderitaan orang lain dengan
membandingkan keadaannya dengan keadaan orang yang sujud.
(Tentu saja sujud tersebut tidak dilakukan dihadapan si
penderita itu).

Sujud syukur dilakukan dengan meletakkan semua anggota sujud
di lantai yakni dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan
kedua ujung jari kaki)--seperti melakukan sujud dalam shalat.
Hanya saja sujud syukur cukup dengan sekali sujud, bukan dua
kali sebagaimana dalam shalat. Karena sujud itu bukan bagian
dan shalat, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa sujud sah
walaupun dilakukan tanpa berwudu, karena sujud dapat dilakukan
sewaktu-waktu dan secara spontanitas. Namun tentunya akan
sangat baik bila melakukan sujud disertai dengan wudu.

b. Syukur dengan lidah

Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber
nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya.Al-Quran, seperti telah dikemukakan di atas, mengajarkan agar
pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi
"al-hamdulillah."

Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji,
walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji maupun
kepada yang lain.

Kata "al" pada "al-hamdulillah" oleh pakar-pakar bahasa
disebut al lil-istighraq, yakni mengandung arti "keseluruhan".
Sehingga kata "al-hamdu" yang ditujukan kepada Allah
mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala
pujian adalah Allah Swt., bahkan seluruh pujian harus tertuju
dan bermuara kepada-Nya.

Jika kita mengembalikan segala puji kepada Allah, maka itu
berarti pada saat Anda memuji seseorang karena kebaikan atau
kecantikannya, maka pujian tersebut pada akhirnya harus
dikembalikan kepada Allah Swt., sebab kecantikan dan kebaikan
itu bersumber dari Allah. Di sisi lain kalau pada 1ahirnya ada
perbuatan atau ketetapan Tuhan yang mungkin oleh kacamata
manusia dinilai "kurang baik", maka harus disadari bahwa
penilaian tersebut adalah akibat keterbatasan manusia dalam
menetapkan tolok ukur penilaiannya. Dengan demikian pasti ada
sesuatu yang luput dari jangkauan pandangannya sehingga
penilaiannya menjadi demikian. Walhasil, syukur dengan lidah
adalah "al- hamdulillah" (segala puji bagi Allah).

c. Syukur dengan perbuatan

Nabi Daud a.s. beserta putranya Nabi Sulaiman a.s. memperoleh
aneka nikmat yang tiada taranya. Kepada mereka sekeluarga
Allah berpesan,

Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur! (QS
Saba [34]: 13).

Yang dimaksud dengan bekerja adalah menggunakan nikmat yang
diperoleh itu sesuai dengan tujuan penciptaan atau
penganugerahannya.

Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya
agar merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh
Allah. Ambillah sebagai contoh lautan yang diciptakan oleh
Allah Swt. Ditemukan dalam Al-Quran penjelasan tentang tujuan
penciptaannya melalui firman-Nya:

Dialah (Allah) yang menundukkan 1autan (untuk kamu) agar
kamu dapat memakan darinya daging (ikan) yang segar, dan
(agar) kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan yang
kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya,
dan supaya kamu mencari karunia-Nya (selain yang telah
disebut) semoga kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]: 14).

Ayat ini menjelaskan tujuan penciptaan laut, sehingga
mensyukuri nikmat laut, menuntut dari yang bersyukur untuk
mencari ikan-ikannya, mutiara dan hiasan yang lain, serta
menuntut pula untuk menciptakan kapal-kapal yang dapat
mengarunginya, bahkan aneka pemanfaatan yang dicakup oleh
kalimat "mencari karunia-~Nya".

Dalam konteks inilah terutama realisasi dan janji Allah,

Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah
(nikmat-Ku) (QS Ibrahim [14]: 7)

Betapa anugerah Tuhan tidak akan bertambah, kalau setiap
jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap hembusan angin
yang bertiup di udara, setiap tetes hujan yang tercurah dan
langit dipelihara dan dimanfaatkan oleh manusia?

Di sisi lain, lanjutan ayat di atas menjelaskan bahwa "Kalau
kamu kufur (tidak mensyukuri nikmat atau menutupinya tidak
menampakkan nikmatnya yang masih terpendam di perut bumi, di
dasar laut atau di angkasa), maka sesungguhnya siksa-Ku amat
pedih."

Suatu hal yang menarik untuk disimak dari redaksi ayat ini
adalah kesyukuran dihadapkan dengan janji yang pasti lagi
tegas dan bersumber dari-Nya langsung (QS Ibrahim [14):7)
Tetapi akibat kekufuran hanya isyarat tentang siksa; itu pun
tidak ditegaskan bahwa ia pasti akan menimpa yang tidak
bersyukur(QS Ibrahim [14]:7).

Siksa dimaksud antara lain adalah rasa lapar, cemas, dan
takut.

Allah telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah
negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya
datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru,
tetapi (penduduknya) kufur (tidak bersyukur atau tidak
bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang
terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka
mengenakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan
oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan (QS
An-Nahl [16]: 112).

Pengalaman pahit yang dilukiskan Allah ini, telah terjadi
terhadap sekian banyak masyarakat bangsa, antara lain, kaum
Saba --satu suku bangsa yang hidup di Yaman dan yang pernah
dipimpin oleh seorang Ratu yang amat bijaksana, yaitu Ratu
Balqis Surat Saba (34): 15-19 menguraikan kisah mereka, yakni
satu masyarakat yang terjalin persatuan dan kesatuannya,
melimpah ruah rezekinya dan subur tanah airnya. Negeri
merekalah yang dilukiskan oleh Al-Quran dengan baldatun
thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Mereka pulalah yang diperintah
dalam ayat-ayat tersebut untuk bersyukur, tetapi mereka
berpaling dan enggan sehingga akhirnya mereka
berserak-serakkan, tanahnya berubah menjadi gersang,
komunikasi dan transportasi antar kota-kotanya yang tadinya
lancar menjadi terputus, yang tinggal hanya kenangan dan buah
bibir orang saja. Demikian uraian Al-Quran. Dalam konteks
keadaan mereka, Allah berfirman,

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka
disebabkan kekufuran (keengganan bersyukur) mereka. Kami
tidak menjatuhkan siksa yang demikian kecuali kepada
orang-orang yang kufur(QS Saba [34]: 17).

Itulah sebagian makna firman Allah yang sangat populer:

Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)
untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku
amat pedih (QS Ibrahim [14]: 7).

KEMAMPUAN MANUSIA BERSYUKUR

Pada hakikatnya manusia tidak mampu untuk mensyukuri Allah
secara sempurna, baik dalam bentuk kalimat-kalimat pujian
apalagi dalam bentuk perbuatan. Karena itu ditemukan dua ayat
dalam Al-Quran yang menunjukkan betapa orang-orang yang dekat
kepada-Nya sekalipun, tetap bermohon agar dibimbing, diilhami
dan diberi kemampuan untuk dapat mensyukuri nikmat-Nya.

Dia berdoa, "Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk
mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan
kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk
mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai..." (QS
An-Nam1 [27]: 19).

Ia berdoa, "Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk
mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku
dan kepada ibu-bapakku, dan supaya aku dapat berbuat
amal saleh yang engkau ridhai" (QS Al-Ahqaf [46]: 15).

Nabi Saw. juga berdoa dan mengajarkan doa itu untuk
dipanjatkan oleh umatnya,

Wahai Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur
untuk-Mu, dan beribadah dengan baik bagi-Mu.

Permohonan tersebut sangat diperlukan, paling tidak disebabkan
oleh dua hal:

Pertama, manusia tidak mampu mengetahui bagaimana cara yang
sebaik-baiknya untuk memuji Allah, dan karena itu pula Allah
mewahyukan kepada manusia pilihan-Nya kalimat yang sewajarnya
mereka ucapkan. Tidak kurang dari lima kali ditemukan dalam
Al-Quran perintah Allah yang berbunyi. Wa qul' "Alhamdulillah"
(Katakanlah, "Alhamdulillah").

Mengapa manusia tidak mampu untuk memuji-Nya? Ini disebabkan
karena pujian yang benar menuntut pengetahuan yang benar pula
tentang siapa yang dipuji. Tetapi karena pengetahuan manusia
tidak mungkin menjangkau hakikat Allah Swt., maka tidak
mungkin pula ia akan mampu memuja dan me~nuji-Nya dengan benar
sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

Mahasuci Engkau, Kami tidak mampu melukiskan pujian
untuk-Mu, karena itu (pujian) kami sebagaimana pujian-Mu
terhadap diri-Mu.

Atas dasar ini, maka seringkali pujian yang dipersembahkan
kepada Allah, didahului oleh kata "Subhana" atau yang seakar
dengan kata itu. Perhatikanlah firman-Nya dalam surat
Asy-Syura ayat 5:

Para malaikat bertasbih sambil memuji Tuhan mereka.

Atau dalam surat Ar-Ra'd (13): 13:

Guntur bertasbih sambil memuji-Nya.

Bahkan manusia pun di dalam shalat mendahulukan "tasbih"
(pensucian Tuhan dari segala kekurangan) atas "hamd" (pujian),
karena khawatir jangan sampai pujian yang diucapkan itu tak
sesuai dengan keagungan-Nya. "Subhana Rabbiyal 'Azhim wa bi
hamdihi" ketika rukuk, dan "Subhana Rabbiyal 'Ala wa bi
hamdihi" ketika sujud.

Alasan kedua mengapa kita memohon petunjuk-Nya untuk bersyukur
adalah karena setan selalu menggoda manusia yang targetnya
antara lain adalah mengalihkan mereka dari bersyukur kepada
Allah. Surat Al-A'raf ayat 17 menguraikan sumpah setan di
hadapan Allah untuk menggoda dan merayu manusia dari arah
depan, belakang, kiri, dan kanan mereka sehingga akhirnya
seperti ucap setan yang diabadikan Al-Quran "Engkau -(Wahai
Allah)- tidak menemukan kebanyakan mereka bersyukur".

Sedikitnya makhluk Allah yang pandai bersyukur ditegaskan
berkali-kali oleh Al-Quran, secara langsung oleh Allah sendiri
seperti firman-Nya:

Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia,
tetapi kebanyakan manusia tida1k bersyukur (QS
Al-Baqarah [2]: 243).

Dalam ayat lain disebutkan:

Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada
Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang
bersyukur (QS Saba' [34]: 13) .

Hakikat yang sama diakui pula oleh hamba-hamba pilihan-Nya
seperti yang diabadikan Al-Quran dari ucapan Nabi Yusuf a.s.,

Kebanyakan manusia tidak bersyukur (QS Yusuf [12]: 38).

Hakikat di atas tercermin juga dari penggunaan kata syukur
sebagai sifat dari hamba Allah. Hanya dua orang dari mereka
yang disebut oleh Al-Quran sebagai hamba Allah yang telah
membudaya dalam dirinya sifat syukur, yaitu Nabi Nuh a.s. yang
dinyatakan-Nya sebagai "Innahu kanna 'abdan syakura"
(Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur)
(QS Al-Isra' [17]: 3), dan Nabi Ibrahim a.s. dengan
firman-Nya, "Syakiran li an'umihi" (yang mensyukuri
nikmat-nikmat Allah) (QS An-Nahl [16): 12l).

Al-Quran menggarisbawahi bahwa biasanya kebanyakan manusia
hanya berjanji untuk bersyukur saat mereka menghadapi
kesulitan. Al-Quran menjelaskan sikap sementara orang yang
menghadapi gelombang yang dahsyat di laut:.

Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengihlaskan
ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata),
"Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari
bencana ini, maka pastilah kami akan termasuk
orang-orang yang bersyukur" (QS Yunus 110]: 22).

Demikian juga dalam surat Al-An'am (6): 63.

Katakanlah, "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari
bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa
kepada-Nya dengan berendah dri dengan suara yang lembut
(dengan mengatakan): Sesungguhnya, jika Dia
menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami
menjadi bagian orang-orang yang bersyukur" (QS Al-An'am
[6]: 63).

APA YANG HARUS DISYUKURI?

Pada dasarnya segala nikmat yang diperoleh manusia harus
disyukurinya. Nikmat diartikan oleh sementara ulama sebagai
"segala sesuatu yang berlebih dari modal Anda". Adakah manusia
memiliki sesuatu sebagai modal? Jawabannya, "Tidak". Bukankah
hidupnya sendiri adalah anugerah dari Allah?

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa,
sedang ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat
disebut? (QS Al-Insan [76]: 1).

Nikmat Allah demikian berlimpah ruah, sehingga Al-Quran
menyatakan,

Seandainya kamu (akan) menghitung nikmat Allah, niscaya
kamu tidak akan sanggup menghitungnya (QS Ibrahim [14]:
34).

Al-Biqa'i dalam tafsirnya terhadap surat Al-Fatihah
mengemukakan bahwa "al-hamdulillah" dalam surat Al-Fatihah
menggambarkan segala anugerah Tuhan yang dapat dinikmati oleh
makhluk, khususnya manusia. Itulah sebabnya --tulisnya lebih
jauh-- empat surat lain yang juga dimulai dengan
al-hamdulillah masing-masing menggambarkan kelompok nikmat
Tuhan, sekaligus merupakan perincian dari kandungan nikmat
yang dicakup oleh kalimat al-hamdulillah dalam surat
Al-Fatihah itu. Karena Al-Fatihah adalah induk Al-Quran dan
kandungan ayat-ayatnya dirinci oleh ayat-ayat lain.

Keempat surat yang dimaksud adalah:

1. Al-An'am (surat ke-6) yang dimulai dengan,

Segala puji bagi Allah Yang te1ah menciptakan langit dan
bumi, dan mengadakan gelap dan terang.

Ayat ini mengisyaratkan nikmat wujud di dunia ini dengan
segala potensi yang dianugerahkan Allah baik di darat, laut,
maupun udara, serta gelap dan terang.

2. Al-Kahf (surat ke-18), yang dimulai dengan,

Segala puji bagi Allah yang te1ah menurunkan kepada
hamba-Nya Al-Kitab (Al-Quran), dan tidak membuat
kebengkokan (kekurangan) di dalamnya.

Di sini diisyaratkan nikmat-nikmat pemeliharaan Tuhan yang
dianugerahkannya secara aktual di dunia ini. Disebut pula
nikmat-Nya yang terbesar yaitu kehadiran Al-Quran di
tengah-tengah umat manusia, untuk "mewakili" nikmat-nikmat
pemeliharaan lainnya.

3. Saba' (surat ke-34), yang dimulai dengan,

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya pula
segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana
lagi Maha Mengetabui.

Ayat ini mengisyaratkan nikmat Tuhan di akhirat kelak, yakni
kehidupan baru setelah mengalami kematian di dunia, di mana
dengan kehadirannya di sana manusia dapat memperoleh
kenikmatan abadi.

4. Fathir (surat ke-35), yang dimulai dengan,

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang
menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus
berbagai macam urusan (di dunia dan di akhirat), yang
mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan
empat.

Ayat ini adalah isyarat tentang nikmat-nikmat abadi yang akan
dianugerahkan Allah kelak setelah mengalami hidup baru di
akhirat.

Setiap rincian yang terdapat dalam keempat kelompok nikmat
yang dicakup oleh keempat surat di atas, menuntut syukur
hamba-Nya baik dalam bentuk ucapan al-hamdulillah, maupun
pengakuan secara tulus dari lubuk hati, serta mengamalkan
perbuatan yang diridhai-Nya.

Di atas dikemukakan secara global nikmat-nikmat-Nya yang
mengharuskan adanya syukur. Dalam beberapa ayat lainnya
disebut sekian banyak nikmat secara eksplisit, antara lain:

1. Kehidupan dan kematian

Bagaimana kamu mengkufuri (tidak mensyukuri nikmat)
Allah, padahal tadinya kamu tiada, lalu kamu dihidupkan,
kemudian kamu dimatikan, lalu dihidupkan kembali. (QS
A1Baqarah [2]: 28).

2. Hidayat Allah

Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS Al-Baqarah
[2]: 185).

3. Pengampunan-Nya, antara lain dalam firman-Nya.

Kemudian setelah itu Kami maafkan kesalahanmu agar kamu
bersyukur (QS Al-Baqarah [2]: 52)

4. Pancaindera dan akal.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu
pendengaran, penglihatan, dan hati, supaya kamu
bersyukur (QS An-Nahl [16]: 78).

5. Rezeki

Dan diberinya kamu rezeki yang baik-baik agar kamu
bersyukur (QS Al-Anfal [8]: 26).

6. Sarana dan prasarana antara lain

Dan Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untukmu)
agar kamu dapat memakan daging (ikan) yang segar
darinya, dan kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan
yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar
padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dan
karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]:
14) .

7. Kemerdekaan

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Hai
kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu ketika Dia
mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikannya kamu
orang-orang yang merdeka (bebas dari penindasan Fir'aun)
(QS Al-Maidah [5]: 20)

Masih banyak lagi nikmat-nikmat lain yang secara eksplisit
disebut oleh Al-Quran.

Dalam surat Ar-Rahman (surat ke-55), Al-Quran membicarakan
aneka nikmat Allah dalam kehidupan dunia ini dan kehidupan
akhirat kelak. Hampir pada setiap dua nikmat yang disebutkan.
Quran mengulangi satu pertanyaan dengan redaksi yang sama
yaitu,

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu ingkari?

Pertanyaan tersebut terulang sebanyak tiga puluh satu kali.
Sementara ulama menganalisis jumlah itu dan mengelompokkannya
untuk sampai pada suatu kesimpulan.

Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat Tuhan dalam
kehidupan di dunia ini, antara lain nikmat pengajaran
Al-Quran, pengajaran berekspresi, langit, bumi, matahari,
lautan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.

Tujuh pertanyaan berkaitan dengan ancaman siksa neraka di
akhirat nanti. Perlu diingat bahwa ancaman adalah bagian dari
pemeliharaan dan pendidikan, serta merupakan salah satu nikmat
Tuhan.

Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat Tuhan yang
diperoleh dalam surga pertama.

Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat-Nya pada
surga kedua.

Dari hasil pengelompokan demikian, para ulama menyusun semacam
"rumus", yaitu siapa yang mampu mensyukuri nikmat-nikmat Allah
yang disebutkan dalam rangkaian delapan pertanyaan pertama
--syukur seperti makna yang dikemukakan di atas-- maka ia akan
selamat dari ketujuh pintu neraka yang disebut dalam ancaman
dalam tujuh pertanyaan berikutnya. Sekaligus dia dapat memilih
pintu-pintu mana saja dari kedelapan pintu surga, baik surga
pertama maupun surga kedua, baik Surga (kenikmatan duniawi)
maupun kenikmatan ukhrawi.

WAKTU DAN TEMPAT BERSYUKUR

Segala puji bagi Allah yang memelihara apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya (pula)
segala puji di akhirat. Dialah yang Maha Bijaksana lagi
Maha Mengetahui (QS Saba' [34]: l).

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Swt. harus disyukuri, baik
dalam kehidupan dunia sekarang maupun di akhirat kelak. Salah
satu ucapan syukur di akhirat adalah dari mereka yang masuk
surga yang berkata,

Al-hamdulillah --segala puji bagi Allah-- yang memberi
petunjuk bagi kami (masuk ke surga ini). Kami tidak
memperoleh petunjuk ini, seandainya Allah tidak
memberikan kami petunjuk (QS Al-A'raf [7]: 43).

Demikian terlihat bahwa syukur dilakukan kapan dan di mana
saja di dunia dan di akhirat.

Dalam konteks syukur dalam kehidupan dunia ini, A1-Quran
menegaskan bahwa Allah Swt. menjadikan malam silih berganti
dengan siang, agar manusia dapat menggunakan waktu tersebut
untuk merenung dan bersyukur, "Dia yang menjadikan malam dan
siang silih berganti, bagi orang yang ingin mengambil
pelajaran atau orang yang ingin bersyukur (QS A1-Furqan [25]:
62).

Dalam surat Ar-Rum (30): 17-18 Allah memerintahkan,

Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di
petang hari, dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan
bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di
waktu kamu berada pada petang hari dan ketika kamu
berada di waktu zuhur.

Segala aktivitas manusia --siang dan malam-- hendaknya
merupakan manifestasi dari syukurnya. Syukur dengan 1idah
dituntut saat seseorang merasakan adanya nikmat Ilahi. Itu
sebabnya Nabi Saw. tidak jemu-jemunya mengucapkan,
"Alhamdulillah" pada setiap situasi dan kondisi.

Saat bangun tidur beliau mengucapkan,

Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan
(membangunkan) kami, setelah mematikan (menidurkan) kami
dan kepada-Nya-lah (kelak) kebangkitan.

Atau membaca,

Segala puji bagi Allah yang mengembalikan kepadaku
ruhku, memberi afiat kepada badanku, dan mengizinkan aku
mengingat-Nya.

Ketika bangun untuk ber-tahajjud beliau membaca,

Wahai Allah, bagimu segala pujian. Engkau adalah
pengatur langit dan bumi dan segala isinya. Bagimu
segala puji, Engkau adalah pemilik kerajaan langit dan
bumi dan segala isinya ...

Ketika berpakaian beliau membaca,

Segala puji bagi Allah yang menyandangiku dengan
(pakaian) ini, menganugerahkannya kepadaku tanpa
kemampuan dan kekuatan (dari diriku).

Sesudah makan beliau mengucapkan,

Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan
memberi kami minum dan menjadikan kami (kaum) Muslim.

Ketika akan tidur, beliau berdoa,

Dengan namamu Ya Allah aku hidup dan mati. Wahai Allah,
bafli-Mu segala puji, Engkau Pemelihara langit dan bumi.

Demikian seterusnya pada setiap saat, dalam berbagai situasi
dan kondisi.

Apabila seseorang sering mengucapkan al-hamdulillah, maka dari
saat ke saat ia akan selalu merasa berada dalam curahan rahmat
dan kasih sayang Tuhan. Dia akan merasa bahwa Tuhan tidak
membiarkannya sendiri. Jika kesadaran ini telah berbekas dalam
jiwanya, maka seandainya pada suatu, saat ia mendapat cobaan
atau merasakan kepahitan, dia pun akan mengucapkan,

Segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji
walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata.

Kalimat semacam ini terlontar, karena ketika itu dia sadar
bahwa seandainya apa yang dirasakan itu benar-benar mempakan
malapetaka, namun limpahan karunia-Nya sudah sedemikian
banyak, sehingga cobaan dan malapetaka itu tidak lagi berarti
dibandingkan dengan besar dan banyaknya karunia selama ini.

Di samping itu akan terlintas pula dalam pikirannya, bahwa
pasti ada hikmah di belakang cobaan itu, karena Semua
perbuatan Tuhan senantiasa mulia lagi terpuji.

SIAPA YANG DISYUKURI ALLAH?

Al-Quran juga berbicara menyangkut siapa dan bagaimana upaya
yang harus dilakukan sehingga wajar disyukuri. Dua kali kata
masykur dalam arti yang disyukuri terulang dalam Al-Quran.
Pertama adalah,

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi),
maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami
kehendaki bagi orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami
tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya
dalam keadaaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang
menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu
dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka
mereka itu adalah orang-orang yang usahanya disyukuri
(dibalas dengan baik). Kepada masing-masing golongan
baik yang ini (menghendaki dunia saja) maupun yanp itu
(yang menghendaki akhirat melalui usaha duniawi), Kami
berikan bantuan dari kemewahan Kami. Dari kemurahan
Tuhanmu tidak dapat dihalangi (QS Al-Isra' [17]: 18-20).

Kedua adalah:

Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu
adalah disyukuri (QS Al-Insan [76]: 22).

Isyarat "ini" dalam ayat di atas adalah berbagai kenikmatan
surgawi yang dijelaskan oleh ayat-ayat sebelumnya, dari ayat
12 sampai dengan ayat 22 surat 76 (Al-Insan).

Surat Al-Isra' ayat 17-20 berbicara tentang dua macam usaha
yang lahir dari dua macam visi manusia. Ada yang visinya
terbatas pada "kehidupan sekarang", yakni selama hidup di
dunia ini, tidak memandang jauh ke depan. "Kehidupan sekarang"
diartikan detik dan jam atau hari dekat hidupnya, boleh jadi
juga "sekarang" berarti masa hidupnya di dunia yang
mengantarkannya bervisi hanya puluhan tahun. Ayat di atas
menjanjikan bahwa jika mereka berusaha akan memperoleh sukses
sesuai dengan usahanya; itu pun bila dikehendaki Allah. Tetapi
setelah itu mereka akan merasa jenuh dan mandek, karena
keterbatasan visi tidak lagi mendorongnya untuk berkreasi.
Nah, ketika itulah lahir rutinitas yang pada akhirnya
melahirkan kehancuran. Hakikat ini bisa terjadi pada tingkat
perorangan atau masyarakat. Kejenuhan dengan segala dampak
negatif yang dialami oleh anggota masyarakat bahkan masyarakat
secara umum di dunia yang menganut paham sekularisme --setelah
mereka mencapai sukses duniawi-- merupakan bukti nyata dari
kebenaran hakikat yang diungkapkan A1-Quran di atas. Tetapi
jika pandangan kita jauh ke depan, visi seseorang atau
masyarakat melampaui kehidupan dunianya, maka ia tidak pernah
akan berhenti-bagai seseorang yang menggantungkan cita-citanya
melampaui ketinggian bintang. Ketika itu dia akan terus
berusaha dan berkreasi, sehingga tidak pernah merasakan
kejenuhan, karena di balik satu sukses masih dapat diraih
sukses berikutnya. Memang Allah menjajikan untuk terus-menerus
dan sementara menambah petunjuk-Nya bagi mereka yang telah
mendapat petunjuk.

Dan Allah sementara menambah petunjuk-Nya bagi
orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Maryam [19]: 76).

Orang yang demikian itulah yang semua usahanya disyukuri
Allah. Mereka yang disyukuri itu akan memperoleh surga
sebagaimana dilukiskan oleh kata masykur pada ayat kedua yang
menggunakan kata ini, yakni surat Al-Insan ayat 22.

***

Demikian sekelumit uraian Al-Quran tentang syukur. Kalaulah
kita tidak mampu untuk masuk dalam kelompok minoritas
--orang-orang yang pandai bersyukur (atau dalam istilah
Al-Quran asy-syakirun, yakni orang-orang yang telah mendarah
daging dalam dirinya hakikat syukur dalam ketiga sisinya:
hati, lidah, dan perbuatan)-- maka paling tidak kita tetap
harus berusaha sekuat kemampuan untuk menjadi orang yang
melakukan syukur --atau dalam istilah Al-Quran yasykurun--
betapapun kecilnya syukur itu. Karena seperti bunyi sebuah
kaidah keagamaan,

Sesuatu yang tidak dapat diraih seluruhnya, jangan
ditinggalkan sama sekali. []

Jumat, 21 Mei 2010

Kata-kata mutiara islam

* Ada dua perkara yang jika Anda Amalkan, Anda akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat: Menerima sesuatu yang tidak Anda sukai, jika sesuatu itu disukai Allah. Dan membenci sesuatu yang Anda sukai, jika sesuatu itu dibenci oleh Allah.”
(Abu Hazim)
* Ada enam perkara, apabila dimiliki oleh seseorang maka telah sempurnalah keimanannya : (1) memerangi musuh Allah dengan pedang, (2) tetap menyempurnakan puasa walaupun di musim panas, (3) tetap menyempurnakan wudhu walaupun di musim dingin, (4) tetap bergegas menuju mesjid (untuk melaksanakan shalat berjama’ah) walaupun di saat mendung, (5) meninggalkan perdebatan dan berbantah-bantahan walaupun ia tahu bahwa ia berada di pihak yang benar dan (6) bersabar saat ditimpa musibah.”
(Yahya bin Muadz)
* Ada tiga golongan orang yang paling menyesal pada hari kiamat : (1) orang yang memiliki budak ketika di dunia, ternyata pada hari kiamat budak tersebut memiliki prestasi amal yang lebih baik darinya, (2) orang yang mempunyai harta tetapi tidak mau bersedekah dengannya sampai ia meninggal dunia, kemudian harta tersebut diwarisi oleh orang yang memanfaatkan harta tersebut untuk bersedekah di jalan Allah, dan (3) orang yang mempunyai ilmu tetapi ia tidak mau mengambil manfaat dari ilmunya, lalu ilmu tersebut diketahui oleh orang lain yang mampu mengambil manfaat darinya.”
(Sufyan bin ‘Uyainah)
* Akhlak yang paling mulia adalah menyapa mereka yang memutus silaturahim, memberi kepada yang kikir terhadapmu, dan memaafkan mereka yang menyalahimu.”
(HR Ibnu Majah)
* Aku belum pernah melihat orang yang paling lama bersedih daripada al-Hasan. Ia berkata, kita tertawa, sementara bisa jadi Allah yang telah melihat amal-amal yang telah kita perbuat berfirman, ‘Aku tidak mau menerima amal-amal kalian sedikitpun.’”
(Yunus bin ‘Ubaid)
* Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.”
(HR Abu Daud)
* Aku menangis bukan karena takut mati atau karena kecintaanku kepada dunia. Akan tetapi, yang membuatku menangis adalah kesedihanku karena aku tidak bisa lagi berpuasa dan shalat malam.”
(‘Amir bin ‘Abdi Qais)
* Aku tidak suka menjadi seorang pedagang budak. Akan tetapi, menjadi pedagang budak lebih aku sukai daripada aku menimbun bahan makanan sambil menunggu naiknya harga yang memberatkan sesama muslim.”
(Yazid bin Maisaroh)
* Amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Jika amal itu ikhlas tapi tidak benar, maka tidaklah diterima. Jika amal itu benar tapi tidak ikhlas, juga tidak akan diterima kecuali jika dilakukan secara ikhlas. Ikhlas artinya dilakukan hanya karena Allah. Adapun benar artinya adalah sesuai dengan sunnah (tuntunan dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).”
(Fudhail bin ‘Iyadh)
* Apa pendapat Anda bila ada seseorang yang pakaiannya terkena air kencing, lalu ia hendak mensucikannya dengan air kencing pula? Mungkinkah air kencing itu dapat mensucikannya? Tentu saja tidak! Kotoran tidak dapat disucikan kecuali dengan sesuatu yang suci. Begitu pula halnya keburukan yang pernah kita lakukan, tidak akan dapat terhapus kecuali dengan memperbanyak melakukan kebaikan.”
(Sufyan ats-Tsauri)
* Apabila akhirat ada dalam hati, maka akan datanglah dunia menemaninya. Tapi apabila dunia ada di hati maka akhirat tidaklah akan menemaninya. Itu karena akhirat mulia dan dermawan, sedangkan dunia adalah hina”
(Abu Sulaiman Ad Daroni)
* Apabila Anda berharap agar Allah senantiasa menganugerahkan kepada Anda apa-apa yang Anda cintai dan sukai maka hendaklah Anda senantiasa menjaga dan melaksanakan apa-apa yang dicintai dan disukai oleh Allah.”
(Salah seorang ahli hikmah)
* Apabila kalian senang Allah ta’ala dan Rasul-Nya mencintai kalian, maka tunaikanlah amanah kalian, dan benarlah jika berbicara, dan bertetanggalah dengan baik kepada tetangga kalian.”
(HR Imam Suyuthi)
* Ayahku pernah mengatakan bahwa apabila ‘Ali bin al-Husain selesai berwudhu dan telah bersiap untuk shalat, tubuhnya akan gemetar dan menggigil. Pernah ada seorang lelaki yang bertanya kepadanya tentang hal itu, maka ‘Ali bin al-Husain menjawab, ‘Celakalah Engkau! Tidakkah kau tahu, kepada siapa aku akan menghadap? Dan kepada siapa aku akan bermunajat?’”
(al-’Utaibi)

Rabu, 12 Mei 2010

Jilbab Busana Seorang Muslimah

"Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min:"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

(QS. Al Ahzaab (33) : 59)

Jilbab. Akhir-akhir ini kata tersebut semakin marak terdengar di telinga kita seiring dengan semakin semaraknya saudara-saudara kita para muslimah memakainya dalam kehidupannya sehari-hari. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan jilbab itu ? Apa pula dasar hukumnya dan mengapa Islam mewajibkan kaum hawa untuk mengenakannya di dalam kesehariannya ?

1. Pengertian Jilbab

Islam sebagai agama yang bersifat universal dalam arti mempunyai aturan-aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dimana di dalamnya terdapat aturan/hukum-hukum yang mengatur masalah pakaian baik itu bagi laki-laki maupun bagi perempuan, yang pada intinya pakaian itu baik bagi laki-laki maupun bagi perempuan digunakan sebagai penutup aurat sebagaimana disebutkan di dalam Al Qur'an. Firman Allah :

"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al A'raaf (7) : 26-27)

Sehingga yang menjadi permasalahan sekarang adalah manakah batas-batas aurat itu ? Untuk aurat laki-laki sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Ahmad, dan Hakim adalah dari pusar sampai dengan lutut. Bagian itulah yang bagi laki-laki harus ditutup sedangkan bagian yang lainnya boleh ditampakkan.

"Dari Muhammad bin Jahsy berkata : Rasulullah lewat di depan Ma'mar kedua pahanya terbuka, maka sabdanya : Hai Ma'mar ! Tutuplah kedua pahamu karena paha itu aurat" (HR. Bukhari, Ahmad, Hakim)

Lalu dimanakah aurat wanita itu ? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dikatakan bahwa aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan hingga pergelangan tangannya.

"Hai Asmaa' ! Sesungguhnya seorang perempuan apabila telah datang waktu haidh, tidak patut diperlihatkan tubuhnya melainkan ini dan ini (Rasulullah berkata sambil menunjuk muka dan kedua telapak tangannya hingga pergelangannya)" (HR. Abu Dawud dari Aisyah r.a)

Di dalam Al Qur'an Allah berfirman yang artinya :

"Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nuur (24) : 31)

Dari uraian diatas dapatlah kita ketahui bahwa jilbab merupakan pakaian yang lapang yang menutup aurat wanita (seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan sampai pergelangan tangan). Jadi pada pengertian tersebut jilbab berbeda dengan kerudung. Kerudng merupakan kain yang digunakan untuk menutupi kepala, leher, hingga dada sedangkan jilbab maliputi keseluruhan pakaian yang menutup mulai dari kepala sampai kaki kecuali muka dan telapak tangan hingga pergelangan tangan. Sehingga seseorang yang mengenakan jilbab pasti berkerudung tetapi orang yang berkerudung belum tentu berjilbab.

2. Kewajiban berjilbab bagi muslimah

Seorang muslimah adalah seorang wanita yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dimana keimanannya itu diyakini dalam hati, diikrarkan dengan lisan dan diwujudkan dengan perbuatan sehari-hari. Dan pengamalan dari keimanan ini adalah dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Mengenakan jilbab bagi seorang wanita adalah merupakan suatu perintah dari Allah SWT dimana hukumnya adalah wajib yang bila dikerjakan berpahala dan bila ditinggalkan berdosa. Hal ini didasarkan atas perintah Allah dalam surat Al Ahzaab ayat 59 dan surat An Nuur ayat 31 diatas

Dari dua ayat ini jelas bahwa Allah mewajibkan wanita beriman untuk mengenakan jilbabnya /kerudungnya kecuali kepada orang-orang tertentu seperti yang tercantum dalam surat An Nuur : 31 diatas yaitu :

"Dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita"

Jadi amatlah disayangkan apabila kita menjumpai saudara-saudara kita muslimah yang memakai jilbabnya hanya untuk kepentingan-kepentingan tertentu saja seperti pada waktu sekolah, mengajar, kuliah, dsb. Tetapi diluar itu apabila dia keluar rumah tidak memakai jilbabnya. Marilah kita perhatikan dan kita renungkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dari Ibnu Mas'ud :

"Perempuan itu adalah aurat, maka apabila ia keluar dari rumahnya maka syetanpun berdiri tegak (dirangsang olehnya)" (HR. Turmudzi)

3. Hikmah memakai jilbab dalam kehidupan sehari-hari

Begitu pentingnya jilbab bagi seorang muslimah sehingga dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda :

"Telah berkata Ummu 'Athiyah saya bertanya : 'Ya Rasulullah apakah salah seorang dari kami dinyatakan bersalah bila ia tidak keluar (pergi ke tanah lapang) karena ia tidak mempunyai jilbab ?' Maka sabdanya : 'Hendaklah temannya meminjamkan jilbab untuknya'." (HR. Bukhari Muslim)

Jadi Rasulullah mewajibkan seorang muslimah untuk mengenakan jilbabnya dalam keadaan apapun, begitu pentingnya hal ini sehingga apabila seorang muslimah tidak mempunyai jilbab beliau menyuruh temannya untuk meminjaminya.

Berikut ini beberapa hikmah dari diwajibkannya jilbab bagi seorang muslimah :

a) Sebagai identitas seorang muslimah

Allah memberikan kewajiban untuk berjilbab agar para wanita mukmin mempunyai ciri khas dan identitas tersendiri yang membedakannya dengan orang-orang non muslim. Dalam sebuah hadits dikatakan :

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka" (HR. Abu Dawud)

b) Meninggikan derajat wanita muslim (muslimah)

Dengan mengenakan jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak membuka auratnya di sembarang tempat, maka seorang muslimah itu bagaikan sebuah batu permata yang terpajang di etalase yang tidak sembarang orang dapat mengambil dan memilikinya. Dan bukan seperti batu yang berserakan di jalan dimana setiap orang dapat dengan mudah mengambilnya, kemudian menikmatinya, lalu membuangnya kembali.

Allah berfirman :

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

(QS. An Nahl (16) : 97)

c) Mencegah dari gangguan laki-laki tak bertanggung jawab

Hal ini mudah dipahami karena dengan seluruh tubuh tertutup kecuali muka dan telapak tangan, maka tidak akan mungkin ada laki-laki iseng yang tertarik untuk menggoda dan mencelakakannya selama ia tidak berperilaku yang berlebih-lebihan. Sehingga kejadian-kejadian seperti perkosaan, perzinaan, dsb dapat dihindarkan

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al Israa' (17) : 32)

d) Memperkuat kontrol sosial

Seorang yang ikhlas dalam menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya khususnya dalam mengenakan busana muslimah, Insya Allah ia akan selalu menyadari bahwa dia selalu membawa nama dan identitas Islam dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga apabila suatu saat dia melakukan kekhilafan maka ia akan lebih mudah ingat kepada Allah dan kembali ke jalan yang diridhoiNya.

Khatimah

Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa dengan diwajibkannya jilbab sebagai busana muslimah ternyata banyak membawa manfaat dan hikmah bagi yang memakainya. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

"Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS.Ali Imran (3) : 191)

Demikianlah sebagai penutup marilah kita renungkan firman Allah dalam surat Al Baqarah 85 berikut :

"Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat."

(QS. Al Baqarah (2) : 85)




MANFAAT dari JILBAB :

- Rambut muslimah yang berjilbab terlindung dari sengatan panas matahari dan terlindung dari debu serta polusi, sehingga ketika jilbabnya dibuka, rambutnya tampak selalu bersinar. Rambut indahnya hanya diperlihatkan untuk orang-orang yang berhak melihatnya.
- Terjaga dari pandnagan pria nakal. Muslimah berjilbab tidak mengumbar tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan. Oleh karena itu, pria pun terbatas memandangnya.
- Pria segan menggoda apalagi melecehkan. Biasanya pria segan mendekati, kecuali kalau peluang itu diciptakan oleh wanita itu sendiri.
- Termotivasi untuk terus menuntut ilmu dan mengamalkannya. Muslimah yang berjilbab merasa dirinya menjadi alat ukur kebaikandan kesuksesan. Tuntutan ini sangat bagus karena memacu dirinya untuk senantiasa berlomba meraih prestasi, kebaikan, dan sekuat mungkin menghindari kesalahan-kesalahan yang dapat mencemarkan nama baik islam oleh perbuatan dosa dan tercela.
- Terjaga kehormatannya. Wanita berjilbab akan selalu menjaga kehormatannya seiring dengan ilmu yang dimilikinya karena mereka mengetahui dan dapat membedakan perilaku yang harus dilakukan dnegan perilaku yang harus dihindari. Wanita berjilbab dan berilmu merasa selalu diawasi Allah dari segala kemaksiatan.

Demikianlah Allah memberi kasih sayangnya kepada wanita melalu syariat islam yang sempurna ^_^ ....





CARA BERJILBAB MENURUT SYARI'AH :

Kalau mau bicara tentang pakaian wanita muslimah yang ideal dan memenuhi seluruh persyaratan, maka sebagaimana yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan.

Artinya, keseluruh tubuh itu wajib ditutup dengan pakaian kecuali bagian muka dan tapak tangan saja. Sedangkan model pakaian, warna, motif, corak atau stylenya diserahkan kepada masing-masing budaya dan kebiasaan.

Asalkan kesemuanya itu memenuhi syarat standar busana muslimah yaitu:


* Tidak tembus pandang
* Tidak ketat hingga membentuk lekuk tubuh
* Tidak menyerupai pakaian laki-laki atau
* Tidak menyerupai pakaian 'khas' milik orang kafir atau pakaian orang fasik
* Benar-benar menutup dan tidak ada yang dibuka atau dibelah sedemikian rupa sehingga bisa memperlihatkan aurat


Itu adalah standar ideal busana muslimah yang bila semua itu terpenuhi, maka sudah cukup. Adapun masalah jilbab gaul yang sekarang jadi mode, bisa kita lihat dari dua arah yang berbeda.

Arah yang pertama, bila kita melihat dari arah ideal. Maka jilbab mode itu jelas masih belum memenuhi semua persyaratan. Misalnya soal ketatnya pakaian itu sehingga tetap membentuk lekuk tubuh. Atau belahan-belahan tertentu yang masih juga memperlihatkan bagian aurat. Juga masalah menyerupai pakaian laki-laki dan seterusnya.

Bila kita nilai dari arah ideal atau tidak, maka jilbab gaul itu tidak bisa dikatakan ideal alias tidak memenuhi syarat busana muslimah.

Yang yang kedua, kita memandang dari arah pakaian trendi di kalangan remaja gaul saat ini yang sedemikian seronok, terbuka, seksi dan cenderung liar dan a moral. Kita bisa mengatakan bahwa pakaian mereka itu sama saja dengan bukan pakaian, karena aurat yang terlihat bukan hanya 'sebagian', tapi justru 'sebagian besar.' Jadi pakaian mereka itu bukan setengah telanjang tapi 2/3 telanjang atau 4/5 telanjang.

Bila dari kalangan mereka ini ada yang mulai sadar dan ingin kembali kepada Islam lalu mulai coba-coba menggunakan busana muslimah meski 'belum memenuhi standar ideal,' maka kita perlu memberi support atau dukungan. Tentu saja dukungan ini sifatnya sementara, karena biar bagaimana pun pakaian idealnya belum terpenuhi.

Tapi support dan dukungan tetap dibutuhkan agar mereka sedikit demi sedikit bisa beradaptasi dengan busana muslimah. Karena kalau mau dibandingkan, biar bagaimana pun jilbal gaul itu tetap lebih baik dari pada baju minim yang mengubar nafsu itu.

Yang diperlukan adalah pendekatan dakwah yang baik dan simpatik kepada mereka agar keinginan baik mereka itu bisa dihargai lebih dahulu. Sambil perlahan-lahan kita mencoba menanamkan makna dan hakikat ajaran Islam secara lebih intensif dan mengena. Nanti pada akhirnya, bila penanaman itu mulai menghasilkan buah, mereka snediri yang akan mengganti jilbab gaulnya dengan busana muslimah yang ideal.







SEMOGA BERMANFAAT ^_^

Hakikat Kecantikan dan Ketampanan (Akhwat waa Ikhwan) Bagikan

Makan dan minum secukupnya

Agar cantik dan tampan, akhwat dan ikhwan tidak boleh makan seenaknya/sesukanya dengan penuh kerakusan, tapi makan sebatas dapat menegakkan tulang-tulangnya untuk mendapatkan tenaga dalam menjalankan aktifitas sehari-hari dengan baik.

Ingatlah firman Allah swt.: "�makan dan minumlah, janganlah berlebih-lebihan/melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Q.S. Al A�raaf 7: 31). Kemudian dalam sebuah hadits diterangkan: "Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi saw. sabdanya: "Orang-orang kafir makan dengan tujuh perut, dan orang mukmin makan dengan sebuah perut." (H.R. Muslim).

Rasulullah saw. menghindari makan dan minum berlebih-lebihan. Beliau makan dan minum hanya pada saat perut terasa lapar dan mengisi perut dalam tiga bagian, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk bernafas. Akibat banyak makan biasanya mudah obesitas, mudah terkena penyakit, cenderung malas ibadah, malas bekerja. dll.

Berolah Raga

Supaya kecantikan/ketampanan yang telah Allah swt. anugerahkan pada kita dapat dijaga, upayakan kondisi fisik selalu bugar melalui olah raga sesuai minat/usia masing-masing. Aturlah waktunya disela-sela kesibukan yang ada. Dalam suatu hadits diterangkan: "Orang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah." (H.R. Muslim).

Dengan berolah raga insya Allah jasad kita dapat lebih terawat, sehingga kondisi tersebut dapat membantu ikhwan/akhwat melaksanakan tugas rutin sehari-hari dengan energik.

Menjaga kebersihan

Yang perlu dijaga kebersihannya adalah seluruh anggota badan dan pakaian. Hadits Bukhari menerangkan: "� Mandilah pada hari Jumat dan keramaslah meskipun kau tidak dalam keadaan junub dan pakailah wewangian�" Perbedaan wewangian antara ikhwan dan akhwat ada, yaitu: Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata: Parfum pria adalah yang tercium aromanya dan tidak tampak warnanya dan parfum wanita adalah yang tampak warnanya dan tidak tercium aromanya." (H.R. Tirmidzi dan An-Nasa�i). Ikhwan/akhwat hendaknya dapat menjaga penampilan diri dari bau keringat yang tidak sedap.

Juga dalam hadits Bukhari dan Muslim diterangkan kebersihan badan seseorang dengan menjaga lima perkara yang termasuk fitrah, yaitu khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memendekkan kumis.

Untuk kebersihan pakaian, Imam Ahmad dan Nasai meriwayatkan hadts dari Jabir r.a., ia berkata: "Rasulullah saw. pernah mengunjungi aku. Ketika beliau melihat seorang laki-laki lewat dengan pakaian lusuh dan kumal, beliau bertutur: Rupanya ia tidak mempunyai sabun untuk mencuci pakaiannya itu." Pada hadits ini, Rasulullah saw. tidak menyukai seseorang yang bertemu dan berkumpul dengan orang lain memakai baju yang kotor dan lusuh selama ia mampu mencuci dan membersihkannya.

Rasulullah saw. mengajarkan kita bahwa pakaian seorang muslim harus selalu rapi dam bersih, sehingga penampilannya sedap di pandang mata. Tentu saja, pakaian tersebut tidak perlu yang selalu baru apalagi kebiasaan mengoleksi baju dengan jumlah berlebih-lebihan, yang terpenting adalah rapi dan bersih, karena pakaian yang menjadi rizki kita sesungguhnya apa-apa yang sampai tidak dapat terpakai lagi oleh diri masing-masing.

Menjaga kebersihan gigi dan mulut, "Seandainya tidak memberatkan kepada umatku, pasti aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat." (H.R. Bukhari dan Muslim).

Memelihara kebersihan rambut, Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa yang memiliki rambut, maka hendaklah ia menghormatinya (memeliharanya)." (H.R. Abu Daud dan Abu Hurairah r.a.). Menghormati rambut itu maksudnya membersihkan, menyisir, memberi wewangian (minyak rambut), dan memeliharanya dengan baik. Islam tidak menyukai orang yang membiarkan rambutnya berantakan/acak-acakan, kotor, dan bau.

Merapikan Diri

Firman Allah swt.: "Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik-baik?" (Q.S. Al A�raf 7: 32).

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Qurthuby berkata: "Imam Makhul meriwayatkan dari Aisyah r.a., ia bercerita: "Pernah sekelompok sahabat menunggu Rasulullah saw. di depan pintu. Ketika beliau hendak keluar menemui mereka, beliau bercermin di air yang ada di dalam bejana di dalam rumah. Setelah beliau merapikan rambut dan jenggotnya, aku (Aisyah) berkata: "Engkau lakukan ini, wahai Rasulullah?" "Ya, bila seseorang akan menjumpai saudaranya hendaklah ia merapikan dirinya. Karena sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan," jawab Rasulullah saw."

Setiap orang perlu memelihara kerapian dirinya, janganlah membiarkan diri dalam penampilan kusut dan kumal dengan dalih ingin zuhud. Rasulullah saw. sendiri menganjurkan untuk berpenampilan rapi, padahal beliau adalah orang yang paling tawadhu dan zuhud.

Maka, selama memperapi diri itu tidak berlebihan, Allah swt. menganjurkan, "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkannya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik-baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) untuk orang-orang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui." (Q.S. Al A�raf 7: 31-32).

Namun wanita muslimah tidak boleh tabaruj. Allah swt. telah melarang tabaruj melalui Q.S. An-Nur 24 : 60 dan Q.S. Al Ahzab 33 : 59. Menurut Ibnu Katsir, tabaruj berarti wanita yang keluar rumah dan berjalan/memamerkan diri di hadapan laki-laki (tabaruj jahiliah). Menurut Bukhari, tabaruj adalah tindakan seorang wanita yang menampakkan kecantikannya kepada orang lain, dan menurut Muqatil tabaruj adalah wanita yang melepaskan jilbabnya, memperlihatkan kalung dan gelangnya.

Juga wanita muslimah yang benar selalu sadar dan ingat pada konsep sikap tawazun (pertengahan/keseimbangan) dalam segala hal, jangan sampai berdandan/merapikan diri berlebih-lebihan atau mengukur penampilan diri berdasarkan kekayaan materi. "Celakalah hamba dinar dan dirham dan hamba sutera dan beludru. Jika ia diberi nikmat, ia senang dan bila tidak diberi ia benci." (H.R. Bukhari).

Yang terakhir, agar penampilan ikhwan/akhwat dapat cantik dan tampan perlu dilengkapi dengan terpeliharanya unsur akal pikiran dengan ilmu. Memang, tidak semua orang punya kecerdasan dan kesempatan yang sama. Tetapi, ikhwan/akhwat harus selalu mencari dan meminta tambahan ilmu kepada Allah swt., sebagaimana diterangkan dalam firman Allah swt., "�Dan Katakanlah, "Ya Rabbi, tambahkanlah kepadaku ilmu." (Q.S. Thaha 20: 114). Dalam sebuah hadits, Aisyah r.a berkomentar: "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Mereka tidak malu-malu untuk bertanya dalam rangka tafaquh fiddin (mendalami masalah agama)." (H.R. Bukhari Muslim).

Oleh karena itu, yang perlu tetap diusahakan adalah memiliki kepedulian untuk selalu berusaha menambah/memahami/mengamalkan ilmu Islam sedikit demi sedikit, adanya proses mencari ilmu sampai akhir hayat, sebab hal tersebut akan menjadi landasan berfikir dan beramal seseorang. Begitu pula ilmu lainnya, kita pelajari sebagai sarana bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt. Sehingga insya Allah, dengan terpadunya unsur hati, jasad/fisik, dan ilmu pada diri ikhwan dan akhwat, ketampanan dan kecantikan kita dapat membawa keselamatan dunia dan akhirat. Wallahu A�lam Bishshawab.

Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya di kuburku, cahaya di hadapanku, cahaya di belakangku, cahaya di kananku, cahaya di kiriku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya pada pendengaranku, cahaya pada penglihatanku, cahaya pada rambutku, cahaya pada kulitku, cahaya pada dagingku, cahaya pada darahku, cahaya pada tulang-tulangku. Wahai Tuhanku, besarkanlah bagiku cahaya dan berikanlah bagiku cahaya dan jadikanlah padaku cahaya dan tambahkanlah padaku cahaya, tambahkanlah padaku cahaya, tambahkanlah padaku cahaya. Aamiin.